Atasi Warna Hitam Air Bengawan Solo, PDAM Bojonegoro Campurkan Tawas dan Lumpur

Editor: Revol Afkar
Wartawan: Eky Nurhadi
Jumat, 13 September 2019 20:34 WIB

Tampak air Sungai Bengawan Solo di Kecamatan Ngraho Bojonegoro berwarna hitam. Perubahan warna air sungai itu diduga akibat terkena limbah industri batik dari Jateng. foto: EKY NURHADI/ BANGSAONLINE

BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, melakukan eksperimen untuk merubah warna air Sungai Bengawan Solo yang menjadi hitam akibat terkena limbah industri batik dari wilayah Jawa Tengah.

Diketahui, air Bengawan Solo dua minggu terkahir ini berubah warna hitam seperti oli. Padahal, air sungai terpanjang di pulau Jawa itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan air oleh masyarakat sehari-hari, mulai pertanian, pabrik, hingga PDAM.

"Kami ada empat titik mesin yang menyedot air dari Sungai Bengawan Solo, mulai dari Kecamatan Padangan Purwoasri, Trucuk, dan Kanor untuk kita proses," jelas Kepala Bagian Pelayanan Pelanggan PDAM Bojonegoro, Joko Siswanto Jumat, (13/9/19).

Ia menjelaskan, untuk melawan air bengawan yang berwarna hitam akibat limbah tersebut, PDAM melakukan eksperimen dengan mencampurkan air yang disedot dengan lumpur tanah. Tujuannya supaya air dapat berubah jernih lagi.

"Kami tidak ingin mengecewakan pelanggan. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kualitas air yang jernih, sehat, dan layak konsumsi," jelasnya.

Selain dengan lumpur, pihaknya juga mencampurkan kaporit dan tawas. Kata dia, tawas berfungsi membersihkan kotoran dan menjernihkan air.

"Sementara masih aman untuk digunakan kebutuhan sehari-hari, tetapi kami ya keberatan. Untuk minum, saya kira masyarakat lebih menggunakan air isi ulang dan kemasan. Air PDAM rata-rata digunakan mandi, mencuci," jelas dia.

Diberitakan sebelumnya, air Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, diduga tercampur limbah pabrik batik, sehingga airnya berubah warna. Air yang biasanya jernih menjadi berwarna hitam pekat seperti oli.

Berubahnya warna pada air sungai itu membawa dampak berbahaya apabila dikonsumsi untuk minum. Untuk menelusuri dari daerah mana limbah tersebut dibuang ke bengawan, DLH Bojonegoro bekerja sama dengan DLH Provinsi Jawa Timur. (nur/rev)