Kunjungan Wisata Jeblok, Ekonomi Lesu

Editor: Revol Afkar
Wartawan: Yuniardi Sutondo
Kamis, 18 Juli 2019 14:22 WIB

Budi Hartoko, Kabid Pemasaran Disparpora Pacitan. foto: YUNIARDI SUTONDO/ BANGSAONLINE

PACITAN, BANGSAONLINE.com - Target kunjungan wisata di Pacitan sepertinya masih menjadi pekerjaan rumah (PR) cukup berat bagi Disparpora setempat untuk direalisasikan. Padahal, jumlah kunjungan itu berbanding positif dengan pendapatan.

"Jumlah kunjungan ini sebagai indikator penentu besar kecilnya pendapatan. Atau bahkan, dengan tingginya kunjungan wisata akan memunculkan efek domino terhadap roda perekonomian masyarakat," ujar Kabid Pemasaran Disparpora Pacitan, Budi Hartoko, Kamis (18/7).

Menurut pejabat yang karib disapa dengan Hartoko ini, hingga awal Juli lalu jumlah kunjungan wisatawan ke Pacitan masih di angka 738.267 orang dari yang ditargetkan sebesar 2,3 juta. "Tentu ini PR yang tak bisa disepelekan dan harus bersama diurai. Bukan hanya pemerintah, namun semua stakeholder yang ada juga harus bersinergi menyikapinya," terangnya.

Banyak faktor yang memengaruhi animo wisatawan terus merosot dalam kurun waktu satu semester ini. Di antaranya, banyaknya momen-momen strategis yang mestinya menjadi high season kunjungan wisata, akan tetapi menjadi tak maksimal akibat dipengaruhi beberapa faktor. Selain itu, Hartoko juga menyebut dari 9 obyek wisata yang dikelola pemkab, mayoritas merupakan obyek wisata pantai.

"Setidaknya kita juga harus ikut memikirkan potensi wisatawan lokal, agar bagaimana mereka bisa datang berkunjung ke pantai dengan biaya murah namun ada dampak lain yang bisa mendorong perkembangan perekonomian masyarakat. Salah satunya penyediaan sarpras yang memadai serta pembebasan retribusi masuk ke kawasan pantai," jelasnya.

Lantas dari mana daerah akan bisa mendapatkan hasil seandainya tidak adanya retribusi tiket masuk ke kawasan pantai? Menurut Hartoko, animo wisatawan merupakan salah satu indikator mendasar untuk bisa mendongkrak pendapatan.

"Itulah perlunya penyediaan sarpras yang lebih dan sangat dibutuhkan pengunjung. Dan yang paling utama, bagaimana pemerintah juga bisa memikirkan dampak ekonomi dari masyarakat di sekitar kawasan. Dengan banyaknya pengunjung, tentu mereka juga akan bisa memetik rezeki. Ini yang menjadi mindset kami agar secara perlahan kita bisa merubah image seperti itu," harapnya. (yun/rev)