Modal Nekat dan Dana Pas-pasan, Pemuda di Trenggalek ini Sukses Bisnis Pia

Editor: Revol Afkar
Wartawan: Herman Subagyo
Sabtu, 07 Juli 2018 20:43 WIB

Rizky Fajar (kiri) dan keponakannya Andika Restu saat menjajakan Pia produksinya. foto: HERMAN/ BANGSAONLINE

TRENGGALEK, BANGSAONLINE.com - Kawasan Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek mendadak jadi pusat produksi jajanan kuliner berupa Pia. Dalam tiga tahun belakangan ini, sebagian anak muda di Desa Gembleb memang tengah mengembangkan bisnis Pia.

Seperti yang dilakukan oleh Rizky Fajar (26th), pengusaha muda asal RT 32 RW 11 Dusun Suren Desa Gembleb. Kepada Bangsaonline.com, ia menceritakan awal mula memulai usaha kuliner Pia.

"Saya memulai usaha ini sekitar satu tahun yang lalu, tepatnya setelah Hari Raya Idul Adha tahun 2017 sampai sekarang," ungkap Rizky di rumahnya, Sabtu (7/7).

Sebelum menjalani usaha kuliner pia, Rizky mengaku pernah membuka usaha bengkel. Dari usaha jasa otomotif, ia kemudian mendadak ganti haluan mendalami usaha kuliner pia hingga sekarang. Rizky menceritakan ilmu yang didapat dari meracik kuliner pia ini ia dapatkan ketika dirinya beserta beberapa pemuda satu desa bekerja pada salah satu home industri di daerah Pasuruan.

"Jadi di Pasuruan itu saya bekerja membuat pia ini. Setelah menguasai ilmunya, ya saya pulang, karena saya ini sejujurnya tidak suka ikut orang, maunya saya ini usaha sendiri," kenangnya.

Rizky mengatakan, modal awal untuk memulai usaha ini ia dapatkan dari pinjaman modal ke salah satu perbankan yang ada di kabupaten Trenggalek. Berangkat dari modal pas-pasan inilah, Rizky akhirnya nekat membuka peluang usaha sendiri.

Meski sudah menjalani usaha kuliner hampir satu tahun ini, Rizky mengaku tidak pernah mendapat suntikan dana ataupun pembinaan dari pemerintah daerah. Semua usaha yang ia jalankan selama ini murni dari usahanya sendiri.

Selama menjalani usaha ini, Rizky telah mampu mempekerjakan sanak saudara, kerabat, dan tetangga sekitar. Bila di musim hajatan pernikahan atau menjelang hari raya idul Fitri, banyak sekali pesanan datang. Bahkan saking banyaknya pesanan, Rizky sampai kewalahan dan terpaksa menolak pesanan tersebut. Pasalnya tenaga serta sarana dan prasarana yang ia miliki masih terbatas.

Dalam satu hari, ia mengaku mampu memproduksi sekitar 4000 butir pia. Sementara kebutuhan bahan baku berupa kacang ijo, dalam satu hari membutuhkan sekitar 25 kilo. Sedangkan bahan baku berupa tepung dalam satu hari membutuhkan 25 kilo.

Semua bahan baku tersebut ia dapatkan dari pedagang lokal, sementara untuk box kue atau kemasan untuk tempat kuliner pia, sengaja ia ambil dari luar kota Trenggalek tepatnya daerah Pasuruan. Rizky mengaku sengaja tidak mengambil kemasan dari lokal karena harganya cukup tinggi dibanding harga dari Pasuruan.

"Untuk kemasan pia ini sengaja saya tidak mengambil dari lokal, saya sudah berkeliling ke beberapa percetakan di Trenggalek maupun Tulungagung, hasilnya harganya cukup mahal dibanding Pasuruan. Selain itu kualitas kertasnya juga masih bagus Pasuruan," ungkapnya.

Kuliner pia milik Rizky memiliki ciri khas tersendiri. Selain empuk, enak, gurih, dan tentunya manis. Untuk satu kardus baik pia basah maupun pia kering dijual dengan harga yang sama. Pia isi 8 dalam satu kemasan dijual dengan harganya 5.500, selanjutnya pia isi 10 harganya 6.700, dan untuk pia isi 12 harga 8.000.
Berkat kegigihan dan upaya keras dari pemuda yang lahir pada tahun 1994 ini, usahanya telah mampu merambah di kabupaten Tulungagung dan Ponorogo. (man/rev)