Masjid Kauman Kota Lama Ponorogo, Jejak Islam Jawa Di Bumi Wengker

Editor: rosihan c anwar
Wartawan: agus yudi santoso
Minggu, 20 Juli 2014 22:10 WIB

? Masjid Jami' Kauman Kota Lama dan Umpak di depan Masjid. Foto:agus yudi santoso/BANGSAONLINE

Masjid Kauman Kota Lama Ponorogo, Jejak Islam Jawa Di Bumi Wengker

Sebagian genersi barumuda masyarakat Ponorogo, saat ini mungkin sudah banyak yang tahu Bahwa Ibu kota Ponorogo pernah berpindah Dari Kota Lama ke Kota Baru yang sekarang ini, namun mungkin belum banyak yangtahu, mengapa dan bagaimana sebenarnya kepindahan ibu kota Ponorogodari kota lama ke kota baruini bisa terjadi.

Berbicara mengenai Ponorogo, memang tidak bisa terpisahkan dengan sejarah ,salah satu tokoh sentralnya yaitu Prabu Batoro Katong. Ada baiknya kita menemui salah satu pengamat sejarah dan budaya Ponorogo RM Arjuna Nusantara atau sering dikenal dengan Ki Joko Bodho, yang juga masih trah keturunan Prabu Batoro Katong ke-28.

Berdasar rangkumannya dari beberapa sumber, semua ini diawali oleh Bathoro Katong yang membangun sebuah kraton di tanah bekas kerajaan Wengker ke 7 (nama lain Kerajaan Ponorogo kuno), pada kisaran tahun 1456-1466.

"Setelah sukses menaklukan Ki Ageng Kutu yang juga disebut Demang Kethut Suryo Ngalam bersama patih Seloaji dan KI Ageng Mirah. Saat ini, kawasan itu masuk dalam areal sebagian KelurahanKadipaten Kec Babadandan sebagian lagi di wilayah Kelurahan Setono, KecamatanJenangan," ungkap Arjuna.

Di sisi lain, cerita dia, Prabu Batoro Katong ke Bumi wengker sebenarnya membawa misi menumbuhkan kembali peradaban Majapahit dengan Agama Islam kasampurnan, yaitu Islam sebagaimana versi Islam Sunan Kali Jaga.

Letak Keraton Kadipaten Ponorogo bentukan Bathoro Katong, diperkirakan berada tepat di Kelurahan Kadipaten. Terhampar mulai Pasar Pon Kota Lama Ke barat Sampai Desa Kepatihan.

Sementaramulai Makam Bathoro Katong, saat ini, hingga ke Barat ke wilayah Kelurahan Kadipaten, diperkirakan adalah bangunan yang disebut Sentanan, yang merupakan satu kesatuan dengan bangunan utama Kadipaten. Terdiri dari tiga bangunan pokok yang membujur dari barat ke timur, dan menghadap ke selatan berurutan, yaitu berupa bangunan Kepatihan, Kadipaten, dan Sentanan.

Di mana struktur bangunan ini menganut system tata kerajaan yang mirip dianut Sunan Kali Jaga.

Era 1980-an, Masjid Jami Kauman Kota Lama diurip-uripi oleh KH Maghfur Hasbulloh almarhum, sosok kiai kharismatik, yang berasal dari Joresan Mlarak Ponorogo.

Putra KH HasbullohJoresan ini, membangun Ponpes Mambaul Hikmah, yang terletak di samping masjid. Dengan para santri dari kalangan mahasiswa IAIN Ponorogo.

Kala itu, yang menjadi favorit saat bulan Ramadan ini, adalah kuliah subuh. Ribuan warga menghadiri kuliah subuh yang diasuh oleh KH Maghfur Hasbullah, yang sarat akan petuah hidup ini.

Yang unik, dalam setiap kuliah subuh itu, selalu disertai tentang 'dongeng' Babad Ponorogo, dan selalu diakhiri dengan penggalan cerita, yang menyisakan pertanyaan. Ini menjadi daya tarik, dan mendorong jemaah untuk hadir lagi, esok hari.

Orator ulung yang akrab dengan para Kiai Sepuh sejawa timur, termasuk Gus Mik ini tetap menjadi panutan dan disegani warga sekitar hingga akhir hayatnya.

KH Maghfur Hasbulloh dimakamkan, di kompleks makam keluarga, di Joresan, Mlarak Ponorogo.