Orasi Wisuda IKHAC, Dahlan Iskan Sebut Khofifah Teknokrat, Kiai Asep Berharap Jadi Presiden | BANGSAONLINE.com - Berita Terkini - Cepat, Lugas dan Akurat

Orasi Wisuda IKHAC, Dahlan Iskan Sebut Khofifah Teknokrat, Kiai Asep Berharap Jadi Presiden

Editor: M Mas'ud Adnan
Senin, 12 September 2022 13:44 WIB

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Dahlan Iskan dalam acara wisuda program sarjana dan pascasarja Institus Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) di Masjid Kampus IKHAC Pacet Mojokerto, Ahad (11/9/2022). Foto: Aris/bangsaonline.com

(Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, Wakil Gubernur Jawa Timur Dr Emil Elestianto Dardak, Dahlan Iskan dan para nara sumber lain. Foto: mma/bangsaonline.com)

Apa itu teknokrat? “Kemampuan teknokrasi adalah kemampun melihat persoalan, kemudian bisa menstrukturkan persoalan, kemudian bisa membuat skala prioritas, mana yang penting, mana yang agak penting, dan mana yang kurang penting. Kemampuan itu sangat diperlukan bagi seorang pemimpin,” kata tokoh pers yang mantan menteri BUMN.

Menurut Dahlan, tak semua orang bisa melihat persoalan. “Persoalan itu banyak. Tak semua orang bisa melihat persoalan,” katanya sembari mengatakan bahwa kadang orang grambyang dalam melihat persoalan.

Bahkan, kata Dahlan, kadang orang bisa melihat persoalan tapi tak bisa menstrukturkan persoalan.

Dahlan kemudian menunjukkan beberapa syarat seorang teknokrat, Menurut Dahlan, seorang teknokrat, selain mampu memilah mana persoalan yang penting, yang agak penting dan kurang penting, juga harus mampu membuat program.

“Bukan hanya mampu membuat program tapi juga mampu mengoperasionalkan dan juga mampu mengontrolnya sehingga mencapai target,” katanya.

Menurut Dahlan, teknokrat sangat langka di lingkungan pesantren. “Dan itulah kelemahan keluarga kita, keluarga pesantren, termasuk keluarga saya, karena saya mendapat warisan dari leluhur kami sekitar 120 madrasah,” kata Dahlan Iskan.

“Kita pinter pidato, kita pinter mengerahkan massa, kita pinter berdebat, tapi lemah dalam teknoratis,” tambahnya.

Menurut dia, yang pintar ngomong di TV sudah sangat banyak, tapi kemampuan teknorasinya masih lemah.

Dahlan Iskan juga merespon pernyataan Kiai Asep yang mencalonkan sebagai presiden. Menurut dia, di Indonesia sekarang ini sudah ada 120 juta penduduk kelas menengah.

Tapi, kata Dahlan, keberadaan mereka tak kelihatan, karena bercampur dengan 150 juta penduduk yang masih belum mencapai kelas menengah.

Menurut Dahlan, seandainya 120 juta penduduk Indonesia kelas menengah itu dikumpulkan dalam satu pulau, pasti akan mengalahkan Australia.

Dahlan mengaku merenung lama, bagaimana caranya agar 150 penduduk yang masih belum mencapai status kelas menengah itu bisa berkembang dan kemudian juga menjadi kelas menengah. Menurut dia, itu perlu cara tersendiri untuk memotivasi mereka. Dan itu tak mudah. Karena mereka berasal dari desa, yang masih miskin, bahkan mungkin juga dari pesantren.

Mereka, tutur Dahlan bisa salah paham jika pemimpin yang mengajak mereka untuk maju tak paham tentang kultur mereka. Bahkan bisa dianggap anti Islam dan sebagainya.

Ia mengaku punya ide setelah lama merenung. Menurut dia, pemimpin yang bisa mengajak 150 juta penduduk itu maju adalah orang yang juga berasal dari mereka. Artinya, calon presidennya harus dari kalangan mereka.

Ia mengatakan, penduduk yang sudah maju yang jumlahnya 120 juta tak perlu dimotivasi lagi. Karena mereka pasti akan berusaha maju sendiri.

“Mereka ini sudah tidak mau lagi miskin. Mereka sudah kapok jadi orang susah,” kata Dahlan Iskan.

Pemkiran Dahlan Iskan itu ternyata mengena. Para tokoh yang orasi setelah Dahlan Iskan memuji ide dan inovasi yang disampaikan Dahlan Iskan. “Pak Dahlan ini memang tokoh inspiratif,” Prof Dr Agus Mulyanah, sosiolog dari Universitas Indonesia. Ia bahkan mengaku selalu membaca tulisan-tulisan inovatif Dahlan Iskan di Disway.

Sementara Dr KH Muhammad Al Barra (Gus Bara) yang sambutan atas nama ketua Yayasan mengingatkan para wisudawan-wisudawati agar selalu menghargai jasa para guru. Mengutip Kitab Ta’lim Muta’aalim, Wakil Bupati Mojokerto itu mengatakan bahwa orang tua kita ada tiga.

Pertama, orang tua yang melahirkan, yaitu ayah dan ibu kita. Kedua, orang yang menikahkan kita, yaitu ayah dan ibu mertua kita. Ketiga, adalah orang yang mengajarkan ilmu kepada kita, yaitu guru atau dosen kita.

Acara wisuda itu memang cukup istimewa. Sejumlah tokoh nasional hadir. Antara lain Gubernur Jawa Timur Indar Parawansa, tokoh pers dan mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan, penyair kondang asal Sumenep D Zawawi Imron, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, sosiolog UI Prof Dr Agung Mulyana, dan para petinggi Kopertais serta Kemenag Jatim.

Selain itu juga hadir beberapa syaikh dari negara Timur Tengah, antara lain dari Mesir.

Acara wisuda itu kian semarak ketika penyair KH D Zawawi Imron membacakan puisi yang sangat menyentuh kalbu. Budayawan asal Sumenep Madura itu membacakan beberapa puisi, disamping berpantun. Diantaranya puisi tentang ibu yang disebut sebagai pahlawan.

Acara wisuda itu berlangsung dua tahap. Pertama, dimulai pukul 8.30 WIB hingga 12.00 WIB. Tahap kedua dimulai pukul 13.00 hingga pukul 16.30 WIB.

Wisuda itu dipimpin Rektor I Dr KH Mauhibur Rohman (Gus Muhib), menantu Kiai Asep. (MMA)

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video