Romantis dan Ditulis Tangan, Ini Surat Cinta Bung Karno pada Hariatie yang Berumur 23 Tahun

Editor: MMA
Rabu, 22 Juni 2022 08:11 WIB

Bung Karno dan Hariatie. Foto: ist

SURABAYA, BANGSAONLINE.com , presiden RI pertama, tidak hanya dikenal sebagai tokoh hebat dan orator ulung yang menggelegar. Tapi juga seorang lelaki . Bahkan ketika sang proklamtor itu sudah berusia 62 tahun.

Setidaknya, itulah ketika mengirimkan surat-surat cintanya kepada yang saat itu masih berusia 23 tahun.

Penasaran dan ingin tahu surat-surat cintanya ke ? Anda harus baca tulisan wartawan kondang, , di HARIAN BANGSA pagi ini, Rabu 22 Juni 2022. Atau di BANGSAONLINE.com di bawah ini. Selamat membaca:

ADA Jalan Mas Trip, tapi tidak ada Jalan Dik Trip atau Mbak Trip. Kelihatannya tidak adil, tapi tidak ada yang keberatan.

Persoalan baru muncul ketika nama Jalan Mas Trip itu dihapus. Diganti dengan Jalan Prabu Siliwangi. Salah satu yang ikut protes adalah seorang wartawan, dekat dengan saya, Nanang Purwono.

Nanang memang mencintai sejarah. Gara-gara ikut protes inilah Nanang dekat dengan keluarga keturunan Mas Trip. Salah satunya seorang wanita, anak angkat istri yang ke-6: .

Sang anak angkat bukan anak angkat biasa. Dia masih keponakan sendiri. Enny, si anak angkat itu, masih anak dari kakak sendiri.

Salah satu rapat untuk memprotes penghapusan Jalan Mas Trip itu di rumah Enny, di Jalan Cipunegara, Surabaya. Nanang terperangah. Kok ada surat tulisan tangan ditaruh di pigura. Untuk hiasan dinding. Di rumah Enny. Tulisan tangan itu sangat dikenal Nanang. Juga dikenal oleh jutaan orang Indonesia: itulah tulisan tangan .

Nanang pun –terakhir menjabat direktur dan Pemred JTV–mendekat ke dinding. Ia mengamati tulisan itu. Ups. Itu surat cinta. Surat cinta kepada .

Dasar wartawan, Nanang mewawancari Enny. Ia tidak menyangka ''kesasar'' ke rumah seorang yang bisa jadi sumber tulisan yang menarik.

Nanang pun menggali lebih jauh soal surat cinta itu. Ternyata tidak hanya satu. Tidak hanya yang dipajang di pigura itu. Masih banyak yang lain. Semua disimpan di dalam album khusus. Lalu diamankan di dalam lemari.

Di ulang tahun ke-121 tanggal 6 Juni lalu Nanang menuliskan temuannya itu di blog pribadinya. Saya pun tertarik dengan tulisan itu. Lalu bertanya pada Mas Nanang lebih banyak lagi. Ia pun tidak keberatan mewawancarai Enny sekali dua kali lagi.

Nanang berpendapat penghapusan nama Jalan Mas Trip Surabaya itu sama dengan tidak menghargai sejarah perjuangan bangsa. Di jalan itulah tiga tentara pejuang tewas dibunuh Belanda. Mereka adalah pejuang yang mempertahankan Surabaya. Agar jangan jatuh ke tentara Belanda lagi.

Lokasi tewasnya tiga Mas Trip itu di dekat dam Rolak Gunungsari. Di sebelah itu ada Hotel Singgasana yang dulu disebut Hotel Patra Jasa. Di belakang Patra Jasa ada Lapangan Golf A. Yani. Kantor lama saya 1,5 km dari lokasi Mas Trip.

Yang berinisiatif menghapus nama Jalan Mas Trip itu pun punya niat mulia. Niat damai. Rukun. Untuk mewujudkan persatuan nasional.

Selama ini, tidak ada nama Jalan Siliwangi atau Pasundan di Surabaya. Demikian pula sebaliknya: tidak ada nama Jalan Gadjah Mada atau Hayam Wuruk atau Majapahit di Bandung.

Seolah sentimen zaman masa nan silam masih harus dipertahankan. Akibat Perang Bubat. Yakni perang habis-habisan antara tentara Majapahit dengan tentara Prabu Siliwangi. Anda sudah hafal ceritanya –terbukti, Anda semua, bisa lulus SMA.

Maka Gubernur Jatim Soekarwo dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan sepakat mengakhiri sentimen lama itu. Soekarwo menjamin akan ada nama Jalan Prabu Siliwangi di Surabaya. Ahmad Heryawan akan membuat nama Jalan Hayam Wuruk di Bandung.

Tapi tidak ada jalan baru di Surabaya. Harus salah satu nama jalan yang sudah ada dikorbankan demi persatuan itu. Dipilihlah Jalan Mas Trip. Perkiraan semula tidak akan ada yang keberatan. Toh tidak ada tokoh yang bernama Mas Trip. Beda kalau yang dihapus itu, misalnya, Jalan Ahmad Dahlan.

Lalu siapa Mas Trip? Yang dibela Nanang dan keturunan Mas Trip itu?

''Mas'' itu nama sebutan untuk laki-laki, yang belum waktunya dipanggil ''Pak'', tapi sudah tidak pantas dipanggil ''Dik''.

Sedang ''Trip'' itu singkatan dari Tentara Rakyat Indonesia Pelajar. Masih pelajar sudah jadi tentara. Masih SMP sudah angkat senjata. Masih kecil tapi sudah perang. Maka tidak layak lagi mereka dipanggil ''Dik'', meskipun juga akan lucu kalau dipanggil ''Pak''.

Banyaknya Mas Bonek di Surabaya kelihatannya mewarisi semangat Mas Trip ini.

Akhirnya terjadi kompromi. Nama Jalan Mas Trip tetap diganti Jalan Prabu Siliwangi. Soekarwo lantas membangun monumen Mas Trip di dekat dam Rolak Gunungsari itu. Yakni di pinggir Kali Mas yang membelah kota Surabaya.

Kalau monumen itu berwujud tiga tentara, mereka itulah tentara pelajar yang tewas dulu.

Beres.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video