Akibat Perang Ukraina, Ribuan Orang Yahudi Mati Lagi, Harga Terigu Naik, Pertamina Tak Kuat

Editor: MMA
Kamis, 03 Maret 2022 10:29 WIB

Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.comPerang memang tak menguntungkan. Termasuk perang -. Indonesia juga terdampak. Harga terigu naik.Harga minyak mentah juga mulai melambung. Yang akan berakibat tak kuat. Loh?

Simak tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan, di BANGSAONLINE.com pagi ini, 3 Maret 2022. Selamat membaca:

DULU, puluhan ribu orang Yahudi dibantai Jerman-Nazi. Sekarang, orang-orang yang sama dibunuh lagi –oleh -Putin.

Itu terjadi Selasa dini hari lalu. Yakni, ketika menembakkan roket ke antena utama TV di dekat ibu kota Kiev. Roket itu juga mengenai kuburan orang-orang Yahudi korban Perang Dunia Ke-2 tersebut. Kuburan itu ikut rusak. Yang sudah mati di dalamnya mati lagi.

Berita itu salah: mereka bukan baru mati dua kali. Tahun 1961 mereka juga pernah mati lagi. Kala itu terjadi banjir lumpur yang luar biasa di Lembah Babi tersebut. Bahkan, lebih dari 2.000 orang yang masih hidup di sekitar kuburan ikut mati beneran. Itulah lumpur yang bertahun-tahun ditampung di situ: lumpur buangan pabrik keramik. Sudah dibuatkan dam untuk penahan. Tidak cukup kokoh. Dam itu jebol.

Berarti, mereka yang di kubur di situ sudah mati tiga kali. Lembah Babi (Baby Yar) –Lembah Nenek– adalah saksi mati atas dibunuhnya 33.771 orang Yahudi. Hanya dalam dua hari pembantaian: 29 dan 30 September 1941.

Hanya di Kiev.

Belum termasuk pembantaian yang lebih besar di Odesa –kota pelabuhan terbesar di yang sekarang juga diserang .

Nasib kelihatannya mirip dengan makna kata ukraina itu sendiri: perbatasan. Ia berada di perbatasan antara Slavia dan . Ia kejepit. Gabungan antar-ras. Karena itu, wanitanya cantik-cantik –tidak terhitung ”i”-nyi.

Kemarin saya rekaman podcast dengan gadis Belarus. Namanya Aleksandra Klintsevich. Panggilannya Sasha. Dia mahasiswi Belarus yang kuliah di Universitas Teknologi Sumbawa. Jurusan psikologi, semester ke-4.

Dari obrolan itu, saya bisa ikut merasakan kesedihan gadis Belarus tersebut. Sasha punya banyak teman di . Dia sering ke . Ke banyak kota di . Dari ibu kota Belarus, Minsk, ke ibu kota , Kiev, hanya tiga jam naik mobil.

Sasha tiap hari kontak-kontakan dengan teman -nyi. ”Sedih sekali,” kata Sasha yang mulai bisa berbahasa Indonesia.

Sasha tidak perlu visa untuk ke . Demikian juga orang , tidak perlu visa ke Belarus. Bahasa di kedua negara tidak banyak beda. ”Orang Belarus bisa mengerti bahasa . Dan sebaliknya,” kata Sasha.

Kini Belarus sepenuhnya memihak . Pasukan yang akan menyerang Kiev datang melalui Belarus. Maka, Belarus juga menjadi sasaran sanksi ekonomi dari negara Barat.

Kelak, kalau menjadi anggota Masyarakat Ekonomi Eropa, hubungan itu akan berbeda. Apalagi kalau akan menjadi anggota NATO. Orang Belarus tidak akan bisa lagi bebas ke . Harus menggunakan visa.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video