BOJONEGORO (BangsaOnline) - Banyaknya pekerja minyak dan gas bumi (migas) di Bojonegoro yang kontrak kerjanya habis diprediksi berimbas terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya dari sektor hotel dan restaurant.
Sejak dua bulan terakhir, ribuan tenaga kerja (naker) di Engineering Procurement and Contruction (EPC)-1 Lapangan Banyuurip, Blok Cepu telah habis masa kontraknya. Sebab, EPC-1 yang dipegang PT Tripatra-Samsung itu telah merampungkan semua pekerjaan, sehingga ribuan naker dari luar daerah telah dirumahkan.
Menurut Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Bojonegoro, Hery Soejarwo, banyaknya naker yang dirumahkan itu otomatis dapat menurunkan pendapatan khususnya dari Hotel dan Restaurant yang ada di kota Ledre.
"Apalagi Bojonegoro belum menjadi daerah tujuan seperti kota wisata atau ibukota lainnya," ujar Hery Minggu (22/3).
Ia menyampaikan, dari data yang ada pajak hotel pada tahun 2014 terealisasi sebanyak Rp 2.521.031.535 dari target Rp 1.755.000.000. Sementara tahun 2015 ini baru mencapai Rp 602 Juta dari target sebesar Rp 2.050.000.000.
"Kami tidak mau berandai-andai, berapa realisasi yang tercapai kita terima, tetapi prediksi kami tahun ini tidak sampai sesuai target," katanya.
Sementara itu, salah satu pemilik hotel dan resto di Jalan Panglima Sudirman, Moh Subkhi menyatakan, membutuhkan trik dan marketing yang inovatif untuk menggaet tamu dan mempertahankan pendapatan.
"Memang ada pengurangan kamar dari pekerja proyek migas, tapi kami terus berupaya untuk menarik tamu agar tetap memilih tempat kami," ujarnya.



