Bersama sejumlah warga Desa Sepande Kecamatan Candi, massa Ansor dan Banser meminta agar kegiatan itu dibatalkan dan ditunda. “Ini adalah aspirasi seluruh ulama Sidoarjo. Acara hari ini dianggap sebuah penistaan karena persoalan mungkarot dibalut dengan persoalan makrifat,” cetus korlap aksi, HM Agus Ubaidillah, yang juga pembina PC GP Ansor Sidoarjo.
Agus meminta panitia acara membatalkan kegiatan itu. Soal para anak yatim yang telanjur datang, Agus meminta agar bingkisan yang telah disiapkan segera dan dibagikan kepada para anak yatim tersebut. “Silahkan bingkisan dibagikan dan acara disudahi saja,” pinta mantan Ketua GP Ansor Sidoarjo ini seraya menyatakan Ansor Sidoarjo sebelumnya telah melayangkan surat meminta agar kegiatan itu dibatalkan.
Desakan agar Kafe Ponti tidak beroperasi lagi, kata Agus, berkaitan dengan sejarah yang tidak bisa dilupakan warga Sidoarjo. Menurutnya, Kafe Ponti menjadi starting point terbunuhnya guru ngaji asal Desa Sepande, Candi, H Riyadi Solikin, yang juga salah satu anggota Ansor Sidoarjo, oleh oknum anggota Polres Sidoarjo, Briptu Eko Ristanto, pada 28 Oktober 2011 silam.
Kedatangan anggota Ansor dan Banser Sidoarjo ini tentu saja menimbulkan suasana tegang. Maklum di lokasi, sudah berkumpul ratusan anak yatim yang siap mengikuti kegiatan yang digelar di halaman kafe tersebut. Sejumlah anggota Polres Sidoarjo dan Polsekta Sidoarjo pun berada di berjaga di lokasi untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.
Massa pun bubar, setelah kegiatan segera diakhiri dengan membagikan bingkisan kepada anak yatim, sekitar pukul 16.13 WIB. Santunan dibagikan satu persatu oleh sejumlah panitia. Ikut membagikan santunan, pemilik kafe Ponti Heri Kuncoro, Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah dan artis Ayu Azhari, yang datang menghadiri kegiatan tersebut.



