
SAMPANG (BangsaOnline) - 40 relawan mendapatkan bekal pelatihan pemetaan daerah rawan bencana dari tim Australia Indonesia Facility For Disester Reduction (AIFDR) yang turun langsung ke lapangan selama enam hari. Dengan dibekali Global Positioning System (GPS), mereka mendata setiap wilayah yang terdampak bencana dan memetakan kondisi resiko semua ancaman bencana banjir di Kabupaten Sampang.
“Untuk hari ini kita fokuskan pemetaan bencana banjir di seluruh Desa dan Kelurahan di wilayah Kecamatan Sampang Kota. Selanjutnya relawan akan bergerak ke Wilayah Kecamatan Jrengik dan Banyuates,” jelas Yayan Ketua Kordinator Pemetaan, LPBI-NU Sampang kemarin.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang yang turut ambil bagian dalam pemetaan daerah rawan bencana menyatakan, pemetaan tidak hanya difokuskan pada bencana banjir namun juga kondisi tiga ancaman bencana lainnya, seperti bencana longsor, puting beliung dan kekeringan.
“Dokumen pemetaan rencana penanggulangan bencana akan sangat bermanfaat, dari segi penanganan akan terpadu sehingga tidak akan tumpang tindih antara sebelas dinas yang terlibat. Jadi akan diketahui, siapa akan berbuat apa ketika ada bencana,” terang Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sampang, Ach Fauzen
Sementara itu menurut Disester Managemen Offiser, Australia Indonesia Facility For Disaster Reduction (AIFDR), Jatmoko, setelah proses penyusunan dokumen kajian resiko selesai maka akan di munculkan semua bentuk ancaman bencana di Kabupaten Sampang. Pemetaan juga akan digunakan untuk penyusunan dokumen kajian resiko bencana yang akan menjadi dasar dalam penyusunan rencana penanggulangan bencana selama lima tahun.
“Dokumen rencana penanggulangan bencana akan efektif apabila terintegrasi dalam dokumen rencana penanggulangan bencana yang disesuaikan dengan visi misi Bupati untuk jangka panjang," katanya.



