BangsaOnline - Payung sudah dipakai sejak 3.500 tahun yang lalu untuk melindungi manusia dari derasnya hujan dan teriknya matahari. Penemunya bernama Lu Ban, seorang Bapak Pertukangan di Tiongkok yang membuat payung pertama di dunia untuk melindungi istrinya tercinta dari hujan yang kerap mengguyurnya saat mengantarkan makanan untuk Lu Ban.
Awal mula terciptanya payung memang berasal dari kisah romantisme sepasang suami istri di Tiongkok. Mereka bernama Lu Ban dan Yun.
Lu
Ban adalah Bapak Pertukangan di Tiongkok. Ia lahir di Negara Lu pada
tahun 507 sebelum Masehi. Lu Ban juga merupakan seorang tukang kayu,
insinyur, filsuf, penemu, ahli militer, negarawan, dan merupakan santo
pelindung pembangunan di Tiongkok. Sementara Yun, adalah seorang istri
yang sangat peduli dan perhatian pada suaminya.
Setiap hari Yun
selalu membawakan makanan untuk Lu Ban yang sedang bekerja keras di luar
rumah. Mungkin, terdengar seperti kisah yang manis, tapi tentunya
perjalanan Yun yang membawakan makanan untuk Lu Ban tidak selalu terurai
manis.
Tidak jarang tubuh Yun basah kuyup terkena hujan deras
ketika mengantarkan makanan untuk suami tercinta karena saat itu tidak
ada alat untuk melindungi diri dari hujan. Tidak tega melihat istri yang
begitu sayang padanya basah kehujanan dan kedinginan, akhirnya Lu Ban
membuat paviliun di sepanjang jalan agar Yun tidak kebasahan lagi.
Namun, Lu Ban merasa cara itu masih kurang praktis.
Suatu hari
ada sekumpulan anak yang berjalan dalam hujan. Mereka memakai daun bunga
teratai untuk melindungi diri mereka dari derasnya air hujan. Melihat
pemandangan tersebut, Lu Ban jadi terinspirasi untuk membuat alat yang
mempunyai fungsi yang sama.
Ia memulai dengan membuat rangka
fleksibel yang ditutupi dengan kertas. Agar alat tersebut tahan air, Lu
Ban pun melapisi permukaan kertas tersebut dengan lilin. Akhirnya,
jadilah payung pertama di muka bumi ini dan Lu Ban menamakan alat
tersebut sǎn. Dalam bahasa Inggris, sǎn disebut umbrella. Umbrella
berasal dari kata ―umbra, dalam bahasa Latin yang artinya bayangan.
Tidak
hanya payung, Lu Ban yang tergolong orang yang pintar, terampil, dan
cekatan, dalam menciptakan sesuatu itu pun telah banyak menciptakan
banyak alat dari kayu, seperti pesawat layang kayu, layang-layang,
gergaji, dan jembatan.
Sejak
saat itulah payung di Tiongkok terus mengalami perubahan. Mulanya
payung dibuat dari kertas yang dilapisi lilin. Seiring berjalannya waktu
pun payung mulai dibuat dari sutra dan kertas minyak yang terbuat dari
kayu mulberry. Bahkan, sebuah buku dari Dinasti Song pernah memuat satu
gambar payung yang dapat dilipat dan persis dengan payung yang digunakan
di masa modern ini.
Setelah berkembang di negara asalnya, payung
pun mulai menyebar ke negara di sekitar Tiongkok. Meningkatnya
pertukaran budaya dengan negara asing, menyebabkan payung secara
bertahap mulai menyebar ke luar negeri, seperti Korea dan Jepang.
Jepang
telah mengirimkan 19 misionaris ke Dinasti Tang untuk mempelajari
kebudayaan Tiongkok. Setelah pulang ke negaranya, misionaris-misionaris
itu memperkenalkan teknik pembuatan payung pada rakyat Jepang. Sejak
saat itulah payung ada di Jepang.
Sekitar 1.000 tahun sebelum
Masehi, payung sudah dikenal oleh bangsa Mesir kuno. Bangsa Mesir kuno
menggunakan payung sebagai simbol religius. Saat itu, payung hanya bisa
digunakan oleh mereka yang dianggap dan dinobatkan sebagai tokoh
religius.
Tinggi rendahnya status mereka di mata masyarakat,
dibedakan oleh panjang tangkai payung yang dikenakan. Makin panjang
tangkainya, berarti orang tersebut punya posisi lebih tinggi dalam
aktivitas religius di tengah masyarakat.
Payung dengan tangkai
yang paling panjang adalah milik raja atau penguasa tertinggi. Untuk
pejabat dengan tingkat yang lebih rendah, panjang tangkai payungnya
disesuaikan juga dengan kewenangan yang dimiliki. Penggunaan payung
untuk kalangan pesohor di Mesir saat itu juga dimaknai bahwa kubah dari
surga melindungi kekuasaan para bangsawan dan tokoh religius.
Selain
Mesir, masyarakat Yunani kuno juga diketahui biasa memakai payung.
Berbeda dengan Mesir, masyarakat Yunani kuno menjadikan payung sebagai
simbol erotisme. Barangkali, di zaman sekarang simbol erotisme payung
seperti ini bisa terlihat dari para umbrella girl yang mengiringi
balapan mobil atau motor.
Di abad pertengahan, payung juga banyak
digunakan oleh masyarakat Asia dan Afrika. Saat itu daratan Eropa belum
banyak menggunakannya. Begitu para penjajah Eropa datang ke Asia,
budaya payung ini pun menyebar. Mereka pun mulai membawa budaya payung
ini ke daratan Eropa.
Di Eropa, payung mulai populer digunakan
oleh masyarakat Portugal. Kemudian sejak saat itu, payung menyebar ke
Perancis dan menjadi bagian dari fesyen. Para raja Perancis dan Inggris
saat itu menggunakan payung dalam pesta-pesta atau upacara pernikahan.
Peran payung pun naik pangkat, yaitu untuk melindungi raja dan jenazah
yang akan dimakamkan. Dari sinilah fungsi payung mulai dikembangkan.
Pada
akhir abad ke-16, payung tidak lagi digunakan sebagai perlengkapan
fesyen, tapi mulai dimanfaatkan untuk melindungi diri dari panas dan
hujan.
Memasuki abad ke-18, budaya payung sudah menyebar ke
banyak wilayah. Hadirnya payung di Inggris pada abad ke-18 lalu,
ternyata membangkitkan pengaruh besar di Inggris Raya. Di Inggris,
payung lebih dikenal sebagai aksesori para perempuan. Tampilan payung
menjadi lebih feminin dengan bahan kain yang diberi hiasan renda pada
tepiannya. Ukuran payung yang lebih kecil dan ringan pun menjadikan
payung lebih digemari perempuan.
Memasuki abad ke-18 seorang
pengembara dan penulis dari Persia, Jonas Hanway (1712-1786) merombak
kebiasaan ini. Dengan penuh percaya diri, Hanway membawa dan
mempergunakan payung di depan umum. Sejak saat itulah payung tidak lagi
identik dengan perempuan. Para lelaki mulai mengikuti jejak Hanway
memakai payung.
Untuk menghapuskan citra perempuan yang melekat
pada payung, desain payung untuk lelaki pun dibedakan dengan payung
untuk perempuan. Payung lelaki lebih besar dan berat, berdesain kaku
serta berwarna hitam.
Para laki-laki Inggris kerap menyebut payung dengan sebutan hanway, mengambil kata dari yang nama orang yang mempopulerkannya.
Akhirnya,
Inggris menjadi salah satu negara yang memproduksi payung secara
massal. Bahkan toko payung pertama di dunia berdiri di Kota London,
Inggris. Toko itu bernama James Smith and Sons. Sampai saat ini pun toko
tersebut masih berdiri di jalan 53 New Oxford St. Pada pertengahan abad
ke-19 payung telah menjadi suatu keharusan bagi orang–orang Inggris.
Perjalanan
payung ke Benua Eropa ternyata membuat bahan yang digunakan untuk
membuat payung pun berubah. Payung yang aslinya dibuat dengan
menggunakan kertas atau kain yang dilapisi lilin, di Eropa payung
terbuat dari kayu atau tulang paus dan tudungnya terbuat dari alpaca
atau kanvas berminyak. Sedangkan pegangan lengkungnya terbuat dari kayu
eboni.
Seiring perkembangan zaman, pembuatan payung dengan
memakai bahan-bahan alami tersebut dinilai kurang efektif dan bisa
merusak alam. Oleh karena itu pada tahun 1852, Samuel Fox menemukan
desain payung berangka baja. Selain itu, Fox juga mendirikan English
Steels Company di Inggris. Kemudian pada 8 Agustus 1885 seorang
keturunan Afrika-Amerika mempatenkan alat penaruh payung.




