Bid'ahkan Peringatan Maulid Nabi, Warga Tuntut Aktifitas Kampus STAI di Surabaya Dibubarkan

SURABAYA (BangsaOnline) - Warga kelurahan Sidotopo kecamatan Semampir yang mayoritas penganut ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Nahdlatul Ulama) dibuat geram atas munculnya tulisan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) "Ali Bin Abi Thalib" dalam buletin Dakwah Al-Iman edisi 250 yang mengupas tuntas persoalan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Buletin itu mengangkat tema besar “Bolehkah Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW” yang ditulis oleh Muhammad Fauzi, semester 5 jurusan Bahasa Arab. Dalam tulisannya, Fauzi mengungkapkan apa yang selama ini dilakukan sebagian besar warga nahdliyin merupakan perbuatan bid’ah (perkara baru).

Alasannya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang biasa dilakukan warga nahdliyin belum pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabiin maupun salafus shalih. Fauzi dalam buletin itu menganggap, perbuatan itu (Maulid Nabi) hanya diada-adakan.

Bahkan, di dalam tulisan itu disebutkan, apa yang selama ini dilakukan warga nahdliyin dalam perayaan Maulid nabi dinilai hanya menuruti hawa nafsu.

“Sudah pasti tidak boleh, karena agama ini telah sempurna, tidak perlu ditambah maupun dikurangi,” begitulah jawaban si penulis dalam buletin.

Di samping itu, si penulis juga mempertanyakan perayaan yang biasa dilakukan warga nahdliyin. Seolah-olah si penulis beranggapan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sama halnya dengan perayaan ulang tahun kaum nasrani (perayaan Natal). Bahkan si penulis menyebutkan bahwa para ulama salaf mempunyai beberapa alasan mengapa melarang perayaan Maulid Nabi SAW.

Pertama, perayaan seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, Sahabat, Tabiin Tabiut Tabiin dan Salafus Shalih. Kedua, orang yang melakukan perayaan maulid nabi menyerupai apa yang dilakukan orang Nashrani. Seperti perayaan Natal dan peringatan kelahiran Yesus.

Ketiga, merayakan Maulid Nabi adalah sarana penjerumusan ke dalam perbuatan syirik. Karena didalamnya terdapat pujian-pujian yang berlebihan terhadap rasulullah. Sehingga mendudukkan Nabi pada tataran Tuhan.

Warga yang sebagian besar menganut ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah kaget dengan tulisan yang beredar pada 9 Januari lalu itu. Tak hanya kalangan warga, tokoh-tokoh masyarakat NU mengkaji apa yang menjadi persoalan yang dinilai menyinggung keyakinan umat beragama tersebut.

Sehingga warga berbondong-bondong mengecam tulisan dalam buletin tersebut karena sudah dinilai menistakan agama. Ratusan warga sekitar baik dari kalangan tokoh masyarakat, mahasiswa STAI Taswirul Afkar, Pemuda, Ormas Islam, LSM, Ikatan Keluarga Madura dan Pengurus NU kecamatan mendatangi kampus STAI Ali Bin Abi Thalib, akhir pekan kemarin (7/2).

"Kami mengutuk keras atas tulisan dalam buletin ini. Kami minta pihak STAI bertang gung jawab atas beredarnya tulisan yang bentuknya provokasi ini. Hentikan aktifitas-aktifitas yang meresahkan masyarakat," ungkap Moch. Athoillah, Mahasiswa STAI Taswirul Afkar.

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah ini menilai apa yang dilakukan pihak STAI dalam membuat opini sangat merugikan masyarakat. Bahkan, melecehkan agama. Seharusnya, hal yang seperti ini tidak muncul dalam buletin, apalagi menilai tentang kepercayaan masyarakat atas perayaan Maulid Nabi adalah sebagai bentuk kemusyrikan

"Ini adalah suatu pelanggaran berat bagi STAI. Karena sudah mensyirikkan agama orang lain," ungkapnya.

Selang beberapa waktu, sebagian tokoh masyarakat sekitar diizinkan bertemu dengan pihak STAI Ali Bin Abi Thalib. Dalam pertemuan itu, para tokoh masyarakat hanya menyampaikan pernyataan sikap atas munculnya tulisan dalam buletin itu sendiri.

Sekjen Ikatan Keluarga Madura (IKAMRA), H. Adrash Ridwan mengatakan, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang biasa dilakukan sebagian besar warga nahdlyin sudah menjadi tradisi, bahkan setiap tahunnya mereka merayakannya sebagai bentuk panutan terhadap ajaran islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Dirinya juga menjelaskan, bahwa apa yang selama ini dilakukan warga nahdlyin, seperti Maulid Nabi, Nuzulul quran, Isra’ Mikraj memang tergolong hal yang baru. Bahkan belum ada pada zamannya Rasulullah.

"Akan tetapi ada dua macam bid’ah; bid’ah dholalah (yang sesat) dan bid’ah hasanah (yang baik).

“Meperingati perayaan-perayaan seperti itu adalah sesuatu hal yang baik. Kalau kita selaku warga NU disebut bid’ah, jawabannya iya. Tapi bid’ah hasanah. Mendoakan nabi sesuatu hal yang baik kok. Kenapa harus diusik, kita ini hidup di bumi Pancasila. Yakni ketuhanan yang Maha Esa, saling menjaga persatuan. Tuhan kita sama, Nabi sama, dan agama pun sama. Nah, apa yang dimunculkan dibuletin itu sendiri, sebuah perbedaan yang sengaja diperuncing masalahnya. Bahkan kita siap buka forum jika pihak STAI masih ingin berdebat persoalan ajaran itu. Apalagi memusyrikkan itu ndak boleh,” ungkap Adrash Ridwan dalam forum.

Maka dari itu, lanjut Adrash, agar kejadian di Sampang – Madura tidak terulang kembali. maka, pihaknya meminta agar STAI menghargai kesepakatan warga. Adapun pernyataan sikap yang menjadi tuntutan warga adalah pemberhentian aktifitas STAI Ali Bin Abi Thalib yang membawa dampak kesesatan bagi warga sekitar. “Aktifitas STAI bubar atau dibubarkan. Kita akan tunggu hingga 3 bulan kedepan. Terhitung saat surat pernyataan ini dibacakan,” tutupnya.

Mengenai hal itu, Ketua Prodi Bahasa Arab STAI Ali bin Abi Thalib, Chusnul mengatakan tidak ada motif tersendiri. Pihaknya beranggapan kecolongan atas terbitnya bulletin ini. Alasannya bulletin ini bagian dari kemahasiswa. Hanya saja dosen-dosen yang berkecimpung untuk memfilter hasil tulisan mahasiswa tidak sempat. Sehingga muncullah bulletin ini dikalangan mahasiswa itu sendiri.

“Kita hanya sebarkan di dalam saja, tidak sampai keluar. Kita menyayangkan ada orang lain yang sengaja memprovokasi terhadap bulletin itu lantas kemudian dibawa keluar dan difoto copy untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat, tidak ada tendensi apa-apa. kita sudah minta maaf kepada warga, dalam hal ini kita juga akan menunggu ketua Yayasan dalam menyikapi hal itu,”ujarnya.

Padahal, salah satu warga mengaku mendapatkan bulletin itu ketika tengah menjalankan salat Jumat di masjid area kampus STAI Ali bin Abi Thalib. “Bohong itu, kita mendapatkan bulletin ini pada waktu salat Jumat. Sedangkan masjid ini juga biasa digunakan kalangan umum. Jadi wajar pada waktu itu warga sudah terima bulletin. Dan saya rasa memang sengaja disebarkan,” ungkap lelaki paruh baya yang biasa ke masjid sekitaran Kampus STAI Ali bin Abi Thalib.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Bid'ahkan Peringatan Maulid Nabi, Warga Tuntut Aktifitas Kampus STAI di Surabaya Dibubarkan