Larang Peringatan Maulid Rasul, Warga Sidotopo Surabaya Demo STAI

Gara-gara edarkan buletin dakwah berisi larangan terhadap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, karena menjurus pada kesyirikan, Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ali bin Abi Thalib di Jalan Sidotopo Kidul 51, Surabaya, Jawa Timur digruduk sekitar 300 an lebih warga setempat, Sabtu (7/2).

Pada buletin berjudul 'Bolehkah Merayakan Maulid Nabi Muhammad' itu, menuliskan kalimat, 'merayakan Maulid Nabi adalah sarana yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan kesyirikan'.

Sebab, dalam perayaan Maulidan Nabi itu, banyak melantun pujian-pujian yang ditujukan kepada Baginda Rasulullah SAW secara berlebihan, sehingga mengarah pada perbuatan syirik.

Warga menduga, Kampus STAI Ali bin Abi Thalib telah mengajarkan ajaran sesat, baik ke mahasiswanya maupun kepada masyarakat luas.

Dalam aksi demo yang dijaga ketat aparat kepolisian dari Polres Tanjung Perak Surabaya dan TNI tersebut, selain berorasi, warga juga membentangkan spanduk besar bertuliskan, 'Warga Bersepakat Atas Pemberhentian Aktivitas STAI Ali bin Abi Thalib'. Warga juga memblokade akses Jalan Sidotopo Kidul.

"Masalah ini harus segera diluruskan. Merayakan peringatan kelahiran Nabi kok dilarang? Ini ajaran aneh, jelas mengarah pada kesesatan ummat," kata Koordinator Aksi, Adras Ridwan di sela aksi, Sabtu (7/2).

Sebagai warga muslim, Adras juga mengaku tidak terima dengan isi buletin tersebut. Pihaknya juga meminta aktivitas di Kampus STAI Ali bin Abi Thalib dihentikan dulu selama tiga bulan.

"Kalau perlu ditutup sekalian, karena sudah menyebarkan ajaran sesat melalui buletin dakwah," tegas pria yang juga menjabat sebagai sekretaris di Organisasi Massa (Ormas) Ikatan Keluarga Madura (Ikamra) Kota Surabaya tersebut.

Masih kata dia, buletin dakwah yang diedarkan mahasiswa STAI Ali bin Abi Thalib pada 16 Januari lalu itu, membuat sebagian besar warga tidak nyaman.

Untuk itu, selain menggelar protes, warga juga mengaku akan memberi laporan baik secara lisan maupun tertulis ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Gubernur Jawa Timur, Wali Kota Surabaya, dan pihak kepolisian di Surabaya.

"Harus ada tanggung jawab dari manajemen dan pengelola kampus," tandasnya.

Wakil Ketua Yayasan STAI Ali bin Abi Thalib, Syaiful Hasan meminta maaf. Dia mengakui kesalahan pada isi buletin dakwah yang ditulis dan diedarkan oleh mahasiswanya pada 16 Januari lalu.

"Karena ini sudah terjadi, maka kami mohon maaf kepada semua pihak. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kami agar selalu berhati-hati dan teliti. Kejadian ini benar-benar tanpa kami sengaja, dan murni kesalahan kami yang tidak kami sengaja," ucap Syaiful usai menggelar dialog tertutup dengan perwakilan warga yang difasilitasi pihak kepolisian.

Buletin itu sendiri, kata dia, diterbitkan mahasiswanya tanpa seizin serta sepengetahuan pihak kampus dan dosen penanggung jawab buletin yang memang bertugas mengoreksi materi buletin.

"Sejak berdiri, STAI berkomitmen untuk dapat memberi hal-hal yang bermanfaat, senantiasa mewujudkan ketenangan, keamanan dan hidup berdampingan secara baik dengan semua pihak, termasuk melanjutkan tradisi memelihara hubungan baik dengan warga sekitar dan pemerintah," katanya.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: