
BONDOWOSO (BangsaOnline) - Banjir bandang yang terjadi di sekitar lereng Gunung Ijen kawasan Jampit menyebabkan Ratusan kepala keluarga (KK) Desa Sempol, Kecamatan Sempol, Bondowoso terpaksa mengungsi ke lapangan desa akibat banjir yang menerjang pemukiman.
Namun, Camat Sempol Tjagar Alam, S.Sos memastikan jika banjir bandang tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Pihaknya bersama aparat terkait mengaku bekerja cepat untuk memastikan warganya dalam kondisi aman.
"Sementara ini belum ada laporan adanya korban. Tapi kami masih melakukan pendataan dan penyisiran," ujar Camat Sempol, Tjagar Alam saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler.
Meski genangan air mulai surut, pihaknya tetap meminta warga untuk tetap di lokasi lapangan Kalisat milik PTP XII. Karena derasnya hujan yang terjadi dikhawatirkan akan terjadi banjir susulan yang membahayakan terhadap keselamatan warga.
"Kami khawatir ada banjir susulan karena daerah hulu dilaporkan masih hujan," tutur Tjagar.
Informasi yang dihimpun, air mulai memasuki rumah warga sekitar pukul 16.00 Wib dengan ketinggian sekitar 50 cm. Karena debit air makin tinggi dan deras ratusan kk mengungsi.
Air yang menggenangi rumah warga akibat hujan intensitas tinggi yang turun sejak pagi di kawasan hulu Sempol membuat anak sungai di kawasan pintu masuk wisata Gunung Ijen tak mampu menampung sehingga meluber ke pemukiman warga.
Sementara itu, Humas Perum Perhutani KPH Bondowoso, Sunaryo mengatakan, banjir yang menggerus pemukiman warga di Desa Kalisat dan Sempol diakibatkan tingginya intensitas hujan yang terjadi. Pihaknya tidak menampik bahwa air berasal dari kawasan gunung Suket yang merupakan kawasan hutan gunung lindung.
Namun, Sunaryo menegaskan, kondisi gunung Suket memang bukanlah hutan dengan pepohonan melainkan semak belukar.
“Banjir itu menurut saya karena intensitas hujan yang tinggi. Kalau dilihat memang dari gunung Suket yang masuk kategori hutan lindung. Kondisinya memang seperti itu, siklusnya setiap 5 tahun pasti kebakaran, tapi kebakaran itu juga cepat tumbuh karena ilalang saja,” ujar Sunaryo.
Salah satu aktivis lingkungan Bondowoso Chuk S Widarsa menuding banyaknya areal hutan yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian, ditengarai menjadi penyebab banjir bandang di kawasan lereng Gunung Ijen, Bondowoso. Dia juga menambahkan, ada banyak kawasan hutan milik Perhutani yang telah beralih fungsi menjadi lahan garapan warga, yang berakibat tidak adanya area resapan hujan.
“Ada proses penggundulan hutan artinya ada perubahan peruntukan yang banyak digunakan untuk lahan pertanian. Akhirnya, tidak ada resapan untuk air hujan, sehingga ketika intensitas hujan tinggi air akan menggerus lahan itu dan menyebabkan banjir seperti yang terjadi kemarin,” tegas Chuk Satu Widarsa saat dikonfirmasi Senin (2/2).
Chuk mengatakan, banjir yang terjadi sejak Sabtu lalu, merupakan dampak dari ketidaktegasan pihak Perhutani sebagai pemilik lahan. Menurutnya, pengawasan dari Perhutani terbukti lemah karena tidak bisa mengawasi peruntukan lahan yang dikelola oleh masyarakat.



