Flaring Migas Banyu Urip Blok Cepu akan Dinaikkan, Ini Permintaan Sekda Bojonegoro

BOJONEGORO (BangsaOnline) - Sehubungan akan dinaikannya flaring atau pembakaran gas sumur di proyek minyak dan gas bumi (Migas) Banyu Urip Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dari 23 MMSCFD sampai dengan 70 MMSCFD, beberapa dampak kemungkinan akan terjadi. 

Beberapa dampak yang akan terjadi diantaranya, dalam bentuk fisik-kimia, seperti perubahan kualitas udara, peningkatan kebisingan, peningkatan suhu udara, radiasi cahaya serta kualitas air permukaan. Sehingga, untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya dampak-dampak tersebut, Pemkab Bojonegoro meminta operator untuk tetap menjaga keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat sekitar.

Flaring itu rencananya akan dilakukan hingga Desember 2015 dan ditarget bisa memiliki kapasitas pembakaran mencapai 23-70 MMSCFD.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Soehadi Muljono mengatakan, beberapa kemungkinan adanya dampak dinaikkannya flaring oleh operator migas Lapangan Banyu Urip Blok Cepu, EMCL akan dirasakan lebih oleh masyarakat sekitar pengeboran yang ada di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.

"Kami meminta operator untuk tetap menjaga keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat sekitar," ujar Soehadi usai rapat tentang adanya Adendum Andal, RKL dan RPL perubahan waktu flaring (23 MMSCFD sampai dengan 70 MMSCFD) dalam rangka start up CPF di Lapangan Migas Banyu Urip Blok Cepu, di Ruang Angling Dharma, Pemkab Bojonegoro, Kamis siang (29/1/2015).

Soehadi berharap, perusahaan Exxon Mobil asal Amerika Serikat, yang mengoperatori Proyek Banyu Urip, Blok Cepu itu tetap memperhatikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat sekitar dengan memperhatikan kemungkinan resiko yang terjadi.

Salah satunya, kata dia, yakni dengan membuat warning system. Dia menjelaskan, warning sistem ini nantinya bisa menjadi acuan masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi perubahan suhu atau terjadi resiko bencana lain.

"Hal-hal yang membahayakan resiko kemungkinan terjadi sehingga cepat diketahui. Sehingga Masyarakat merasa aman," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta agar tetap mengontrol kondisi kesehatan Masyarakat sekitar yang terdampak. Pemkab, kata dia, menyarankan untuk masyarakat yang kondisi ekonominya menengah keatas untuk diakses ke BPJS.

"Karena yang masyarakat miskin sudah mendapat jaminan kesehatan gratis," terangnya.

Terpisah, Deputy Development Manager ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Elvira Putri mengatakan, jika beberapa usulan dari pihak Pemerintah tersebut sudah menjadi hal biasa dan akan dijalani sesuai keinginan Pemkab Bojonegoro.

"Sudah biasa. Ya kita akan jalanin," ujarnya ditemui terpisah usai rapat dengan pejabat Pemkab Bojonegoro di Ruang Angling Dharma.

Sementara itu, dinaikkannya flaring oleh EMCL ini untuk mengejar keterlambatan proses produksi. Pada tahun 2014 produksi minyak yang dilakukan sejak bulan Oktober 2014 dengan pengoprasian flaring BU WPC Start Up selama 24 jam kapasitas pembakaran maksimal menghasilkan 7,5 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).

Pada tahun ini (2015) peningkatan produksi minyak akan dilakukan dengan pengoperasian flaring (WPB Start Up) selama enam bulan hingga 18 bulan. Setelah flaring selama lima bulan di WPB Start Up akan dilanjutkan pengoperasian flaring dari CPF selama 24 jam berlangsung hingga fasilitas kompresi gas injeksi siap untuk beroperasi ketahap produksi penuh.

Sedangkan hingga saat ini Produksi Blok Cepu mencapai 40 ribu barel perhari (Bph), sehingga target setelah flaring ini bisa bertambah dari 10 ribu barel perhari menjadi 35 ribu barel perhari (Bph).


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: