NGANJUK (BangsaOnline) - Cacat fisik bukan halangan untuk melakukan aktifitas demi mengais rejeki. Seperti yang dialami oleh Sarianto alias Ucok (30) warga Lingkungan Cacingan Kelurahan Jatirejo. Meski tinggi badannya hanya 102 cm tetapi Ucok tetap semangat untuk mencari penghidupan, apalagi dia telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya sejak kelas 6 SD.
Dengan keterbatasannya dia membuka usaha reparasi sepeda dan tambal ban.
"Usaha tambal ban ini warisan dari bapak saya yang sudah meninggal dunia, dan mulai hari ini saya merintis usaha baru yaitu berdagang ayam bangkok dan berbagai jenis burung," kata Ucok kepada BangsaOnline, Jumat (9/1).
Karena tubuhnya yang kerdil dia mengaku agak kesulitan saat memajang sangkar burung di halaman rumahnya. Dia harus naik kursi agar bisa mengaitkan sangkar pada gantungan.
"Gantungannya ada yang tinggi, jadi ya harus pakai kayu panjang yang dipasangi paku untuk bisa memajang sangkar namun tetap naik kursi," ujar Ucok polos.
Hal yang menjadi ganjalan, kata Ucok, sampai saat ini belum menemukan calon pendamping. Padahal untuk mencukupi ekonomi jika berumah tangga, dia sudah siap.
"Saya hidup sebatang kara sejak kedua orang tua saya meninggal, kedua adik saya sudah menikah, tinggal saya yang belum," imbuhnya.
Dalam pergaulan memang terkenal luwes. Mungkin karena keluwesannya dalam bergaul itu, saat musim kampanye, Ucok sering disewa oleh beberapa calon legislatif untuk mengkoordinir teman-temannya untuk ikut berkampanye.
"Kaos parpol saya banyak, setiap kampanye parpol apa saja saya selalu ikut," bangganya.
Dikatakan, penghasilanya dibilang sudah cukup untuk taraf hidup di wilayah kabupaten Nganjuk. Setiap harinya dia dapat menyisihkan uang sekitar Rp 50 ribu dari hasil reparasi sepeda ontel dan tambal ban. Dari tabungannya itu dia kembangkan usahanya dengan jual burung kicau.
"Belajar berdagang, siapa tahu uangnya bisa untuk kawin, itu kalau ada cewek yang mau," guraunya.




