
Puncak produksi minyak mentah di lapangan minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip Blok Cepu di Bojonegoro diperkirakan mulai berlangsung pada Juli 2015. Puncak produksi minyak mentah lapangan Banyu Urip Blok Cepu itu mencapai 165.000 barel per hari.
Menurut Kepala Unit Percepatan Proyek (UPP) Banyu Urip Blok Cepu SKK Migas Jawa, Bali, Madura dan Nusa Tenggara (Jabamanusa), Julius Wiratno, produksi minyak mentah lapangan migas Banyu Urip akan terus dinaikkan secara bertahap hingga mencapai puncak produksi. “Puncak produksi minyak mentah Banyu Urip diperkirakan pada Juli 2015,” ujar Julius Wiratno, kemarin (23/11/2014).
Saat ini, kata dia, produksi minyak mentah lapangan migas Banyu Urip Blok Cepu mencapai 40.000 barel per hari. Produksi minyak mentah itu mengalami kenaikan dari sebelumnya sebesar 30.000 barel per hari.
Peningkatan produksi minyak mentah itu, lanjut dia, dilakukan secara bertahap seiring dengan penyelesaian pengerjaan proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and constructions/EPC) Banyu Urip.
Proyek Banyu Urip itu meliputi pembangunan fasilitas produksi utama, pembangunan pipa darat untuk alir muat minyak mentah sepanjang 72 kilometer, pipa bawah laut untuk alir muat minyak mentah, pembangunan menara tambat untuk bersandarnya kapal tangker, serta pembangunan infrastruktur.
Secara keseluruhan pembangunan proyek Banyu Urip yang berada di wilayah Bojonegoro dan Tuban itu kini mencapai 90 persen. Menurut Julius Wiratno, produksi minyak mentah lapangan Banyu Urip merupakan salah satu andalan produksi minyak nasional. Produksi minyak mentah Banyu Urip diharapkan dapat memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan produksi minyak nasional.
Sementara itu menurut Field Public and Goverment Affairs Exxon Mobil Cepu Ltd. (EMCL), Rexy Mawardijaya, produksi minyak mentah lapangan Banyu Urip dinaikkan secara bertahap hingga mencapai puncak produksi. “Dalam menaikkan produksi minyak mentah itu, kami selalu memerhatikan keamanan dan keselamatan,” ujarnya.



