
GRESIK (bangsaonline) - Musim kemarau panjang yang terjadi hingga bulan November tidak hanya dirasakan warga karena sulitnya untuk mendapatkan air bersih. Namun, hal yang sama juga dirasakan PT Petro Kimia Gresik (PKG).
Karena
menipisnya debit air Bengawan Solo, bahkan air Bengawan Solo mulai asin, membuat
perusahaan pupuk terbesar di Indonesia ini merasa ketar-ketir.
Jika dalam waktu dekat hujan tidak segara turun, tidak menutup kemungkinan
perusahaan pupuk berlogo kepala kerbau sawah ini terancam tidak bisa produksi,
karena tidak mendapatkan pasokan air. Bahkan, dari tiga pipa penyedot air di
Babat, Lamongan saat ini tinggal dua yang berfungsi.
Sementara, pipa penyedot
air satunya sudah tidak berfungsi karena posisinya sudah mengantung dari
permukaan air. " Tapi mudah-mudahan cukup. Sebelum air Bengawan Solo
habis, hujan sudah turun," kata Yusuf Wibosono, Manager Humas PT Petro
Kimia Gresik kepada wartawan.
Dikatakan Yusuf, menipisnya debit air Bengawan Solo belakangan ini memang cukup
berpengaruh terhadap Petro, baik secara kuantitas maupun kualitas. Karena debit
air yang menimpis itu air yang disedot keruh.
Selain itu, pengambilan air tidak
bisa dilakukan di permukaan. " Kalau soal pengaruh jelas pengaruh. Selain
proses penyedotan air berat, air yang dihasilkan juga keruh, " jelas
Yusuf.
Tapi, kalau misalkan tidak cukup lanjut Yusuf, air Telaga Ngipik di Kecamatan
Kebomas bisa dijadikan sebagai alternatif. Namun tampaknya hal itu tidak sampai
akan dilakukan. Mengigat sejumlah daerah sudah mulai terjadi turun hujan.
Untuk kebutuhan air selama ini Petro selain mengandalkan dari Babat, Lamongan juga dari Gunungsari. Dari Gunungsari sebesar 750 meter kubik perjam. Sementara dari Babat 2050 meter kubik perjam.



