
Sebanyak 17 pondok pesantren di Jatim telah ditetapkan sebagai proyek percontohan penerapan eknomi syariah di Indonesia. Dan sebanyak 10 ponpes telah disurvei serta siap, tinggal tujuh ponpes yang belum didatangi atau disurvei.
Ke-17 ponpes ini dipilih oleh Bank Indonesia sebagai tindak lanjut ditetapkannya Indonesia sebagai tempat penerapan ekonomi syariah oleh 57 bank central dari 57 negara di dunia.
“Jawa Timur dipilih sebagai tempat pilot project penerapan sistem pengembangan ekonomi Islam atau ekonomi syariah karena Jatim merupakan tempat atau gudangnya pondok pesantren. Untuk itu, pemerintah mempercayakan kepada Jawa Timur bahwa system perbankan yang baru ini bisa dan dapat dikembangkan di Jawa Timur sesuai dengan ajaran Diniah dan Salafiah,” ujar Gubernur Jatim Soekarwo (Pakde Karwo).
Pakde Karwo yakin, 17 ponpes tersebut siap untuk menjadi pengembangan eknomi syariah, karena memang sesuai dengan jaran diniah dan salafiah. Untuk mempersiapan rencana penerapan ekonomi syariah di Jatim, pada 3-9 Nopember 2014 akan ada pertemuan antara 57 Gubernur Bank Central Negara OKI 2014 di Makodam Brawijaya V. Puncak acara akan diselenggarakan pada 5 Nopember 2014, dimeriahkan salawat bersama Habib Syech.
Pakde menjelaskan, selain sebagai pilot project penerapan ekonomi syariah, di ponpes juga akan dibangunkan SMK Mini yang pendidikannya sangat singkat yakni hanya selama enam bulan siswa sudah mahir dalam bidangnya.
“Didalam SMK minii ini siswa akan diajari tentang keterampilan mengelas namun bukan mengelas pagar tetapi mengelas kapal atau mobil yang professional, serta ketrampilan yang lain yang sesuai engan permintaan pasar interasional. Ini semua dilakukan pemerintah provinsi untuk menjawab da membekali alumni santri agar lebih dapat hidup mandiri dalam persaingan pasar global tahun mendatang dan tepatnya adalah akhir tahun 2015 nanti,” papar Pakde.
Untuk tahun 2015, sekitar 55 SMK Mini akan dibangun di ponpes dan tahun berikutnya juga sama, sehingga dalam kurun waktu tiga tahun pondok pesantren di Jatim telah mampu mencetak banyak santri professional dan tangguh serta bersaing dan menjawab tantangan pasar global.
“Sebab, kehidupan pada era pasar global semua orang dari seluruh penjuru dunia bias masuk ke Negara manapun yang dia suka dan dapat memberikan keuntungan bagi mereka. Seperti di Indonesia nanti siapapun bias asuk sesuka hatinya kapan saja mereka mau, yang penting mereka dapat bersaing dengan masyarakat negeri itu sendirimaka pemerintah setempat tidak bias menghalangi atau eghentikan,” jelas Pakde lagi.



