Harga BBM Selangit, Warga Masalembu Geruduk Kantor Kecamatan

MAHAL.
Ratusan Warga Masalembu menduduki Kantor Kecamatan Masalembu. Mereka 'menyandera' Anggota DPRD Sumenep.foto: ida oktvinita/BANGSAONLINE


SUMENEP (bangsaonline) - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kepulauan Masalembu dikeluhkan warga. Mereka menilai, harga yang selangit (mahal,red) sangat tidak wajar. Mereka pun
memrotes para agen dan sub agen yang dinilai memainkan harga BBM hingga tembus Rp 15 ribu per liter. 


Untuk menyalurkan aspirasinya, sekitar 500 warga Masalembu menggelar aksi  unjukrasa di Kecamatan Masalembu, kemarin (21/3). Mereka menuntut Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) menindaktegas agen maupun sub agen yang
menjual BBM dengan harga tinggi. Dalam aksinya, warga menduduki kantor kecamatan sembari menunggu tuntutan mereka dipenuhi.

Dalam aksi tersebut, warga tidak berhasil menemui Camat Masalembu lantaran tidak berada di tempat. Massa hanya ditemui staf kecamatan bersama Kapolsek Masalembu, Ipda Marjito serta Danramil Masalembu.

Situasi sempat memanas ketika pengunjuk rasa meminta Forpimka menandatangani kesepakatan bersama yang berisi kesanggupan untuk melakukan razia terhadap sub agen 'nakal'. Kapolsek Masalembu sempat menolak menandatangani kesepakatan lantaran belum ada ijin dari Kapolres Sumenep.

Penolakan tersebut memantik emosi warga. Mereka mendesak agar Kapolsek dan unsur Forpimka ikut menandatangani kesepakatan tersebut. Lantaran tak kunjung ada kesepakatan, warga tiba-tiba 'menyandera' Darul Hasyim Fath, anggota DPRD Sumenep yang tengah berada di Masalembu.

Massa meminta agar Darul sebagai wakil rakyat berada di pihak rakyat dan mendukung tuntutan warga. 

"Sebagai wakil rakyat, apalagi saya juga berasal dari Masalembu, maka saya diminta ikut membantu tuntutan masyarakat. Akhirnya saya menghubungi Kapolres Sumenep, mengomunikasikan keinginan warga agar aparat kepolisian
bersedia mendukung kesepakatan bersama untuk sweeping BBM itu," ungkap Darul.

Darul mengaku memahami kemarahan warga Masalembu terkait harga yang mahal dan langkanya BBM selama berminggu-minggu. Menurutnya, keberadaan APMS di Masalembu tidak membantu, tapi justru menyulitkan masyarakat.

"Di APMS Masalembu juga sering kosong. Mereka lebih banyak menjual ke sub agen dibanding konsumen langsung. Wajar dong kalau masyarakat marah. Pemerintah harusnya bersikap. Tidak boleh tunduk pada pebisnis hitam," tandasnya.

Sementara Korlap Aksi, Ahmad Soleh mengatakan, BBM di Masalembu tidak hanya harganya yang melambung, namun stok di pasaran juga menghilang. Kondisi tersebut sudah terjadi lebih dari 2 minggu.

"Harga BBM di Masalembu sekarang ini mencapai Rp 15 ribu per liter. Paling murah Rp 10 ribu per liter. Itu sangat memberatkan rakyat. Padahal kemarin sudah ada kesepakatan di hadapan Forpimka, harga eceran BBM tidak lebih dari Rp 8 ribu per liter," katanya.


"Kalaupun ada, pembelian dibatasi. Tiap orang maksimal hanya boleh membeli Rp 10 ribu," imbuhnya. Dia menduga, ada permainan antara APMS dan sub agen. 

Selama ini, katanya, APMS ditengarai lebih banyak menjual pada sub agen. Sedangkan sub agen diduga sengaja menimbun untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. "Mereka kemudian menjual dengan harga tinggi pada masyarakat. Kami, warga pulau yang menjadi korban!," tandasnya.


Harga BBM Selangit, Warga Masalembu Geruduk Kantor Kecamatan