Kuatkan Kurikulum 2013, Kembangkan Tiga Materi

SURABAYA (bangsaonline) - Sejalan dengan program pemerintah, Usaid Prioritas mengembangkan pelatihan Kurikulum 2013 dengan menggelar pelatihan bertajuk Pelatihan untuk Pelatih Tingkat Provinsi Jawa Timur: Praktik yang Baik dalam Pembelajaran SD/MI (Modul 2) untuk Fasilitator Daerah Mitra USAID PRIORITAS wilayah DBE (Bojonegoro, Nganjuk, Sampang) dan (Ngawi, Lumajang).

Beberapa materi pelatihan yang diulas dan dibutuhkan oleh guru di antaranya mengembangkan pertanyaan tingkat tinggi, literasi lintas kurikulum, dan gender dalam pendidikan. Menurut Juprianto Koordinator Training Pembelajaran untuk SD/MI USAID PRIORITAS Jatim, dimasukkannya ketiga materi ini karena tuntutan Kurikulum 2013 yang harus dimiliki oleh pendidik.

“Dengan memberikan materi-materi tersebut dalam pelatihan kami, diharapkan pendidik yang tergabung dalam mitra kami memiliki pemahaman yang utuh tentang Kurikulum 2013 dengan menerapkan pendekatan pembelajaran aktif dan interaktif,” terangnya, disela pelatihan yang digelar di Hotel Santika Premiere Surabaya, Senin (20/10/2014). Sebanyak 82 peserta dari 5 kabupaten (Ngawi, Lumajang, Bojonegoro, Nganjuk, Sampang) mengikuti pelatihan ini.

Juprianto menjelaskan, dalam Kurikulum 2013, salah satu kegiatan yang ditekankan kepada siswa adalah ketrampilan bertanya tingkat tinggi. Cara guru bertanya mempunyai pengaruh terhadap pencapaian hasil belajar. “Dengan mengembangkan pertanyaan tingkat tinggi, secara otomatis guru akan mendorong siswa untuk membangun gagasan sendiri, berpikir alternatif, berpikir kreatif, untuk melakukan pengamatan, dan penyelidikan sehingga mereka memberikan jawaban yang merupakan gagasan orisinil dari mereka sendiri,” urainya.

Sementara materi Literasi Lintas Kurikulum diberikan dengan maksud menjadikan peserta pelatihan dalam hal ini pendidik lebih menyadari bahwa kemampuan literasi (membaca/memahami isi bacaan, mendengarkan/menyimak/memahami apa yang diungkapkan orang lain,berbicara/mengungkapkan gagasan secara lisan, dan menulis/mengungkapkan gagasan secara tertulis) sangat diperlukan dalam mempelajari dan sekaligus dapat dikembangkan dalam mata pelajaran-mata pelajaran tersebut.

“Kita sering mendengar bahwa kesetaraan gender hanya terkait dengan perempuan. Namun sebenarnya kesetaraan ini juga ditujukan untuk laki-laki. Hasil pengamatan di sekolah menunjukkan masih banyak terjadi bias gender dalam proses pembelajaran yang berhubungan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Misalnya saja di buku ajar kita familiar dengan bacaan, ‘Budi pergi bermain, Wati membantu ibu di dapur.’ Padahal hak bermain tidak hanya untuk laki-laki dan membantu ibu bukan hanya kewajiban perempuan,” terangnya.


Kuatkan Kurikulum 2013, Kembangkan Tiga Materi