Panitia Seleksi 278 Calon, Inilah Delapan Kandidat Pemenang Nobel Perdamaian


JAKARTA(BangsaOnline) Penghargaan Nobel Perdamaian cukup bergensi.Tahun ini, panitia menyeleksi 278 calon dari seluruh dunia. Jumlah ini jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setelah melalui tahap perdebatan, berikut delapan nama yang dianggap layak memenangkan Nobel Perdamaian 2014.

Paus Fransiskus

Ia adalah paus pertama non-Eropa di era modern. Empati dan kasih sayangnya kepada orang-orang yang kehilangan menjadikannya diidolakan masyarakat dunia.

Pendahulunya menikmati semua kemewahan yang disodorkan Vatikan. Paus Fransiskus membuang semuanya, termasuk mobil kepausan yang anti-peluru, yang membuatnya lebih relatable kepada massa.

Paus Fransiskus mengguncang Vatikan. Ia merumuskan kembali kepausan, dan meniupkan kehidupan baru ke dalam gereja.

Ban Ki-moon

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB asal Korea Selatan. Dia dianggap layak meraih Nobel Perdamaian, karena menggunakan posisinya untuk fokus pada perubahan iklim, pandemik, keamanan pangan, dan tantangan terhadap tekanan global lainnya.

Ban Ki-moon dibesarkan dalam suasana Perang Korea, dan bertekad menggunakan posisinya memajukan perdamaian dunia.

Denis Mukwege

Nama ini tak banyak dikenal. Terutama di Indonesia. Ia seorang dokter di Kongo. Ia dianggap layak meraih Nobel Perdamaian karena menjadi penyelamat korban kekerasan seksual di negeri asalnya.

Mukwege mendedikasikan hidupnya untuk menyediakan tempat perlindungan bagi korban perkosaan di sebelah timur Republik Demokratik Kongo. Pasiennya datang dari desa-desa sejauh ratusan mil dengan luka fisik dan psikis tak terkira, untuk mendapat pengobatan di rumah perlindungan Mukwege.

Di Republik Demokratik Kongo, juga di mendan perang mana pun, perkosaan adalah senjata. Ia digunakan satu atau dua pihak yang berseteru untuk perang psikologis.

Edward Snowden

Tidak ada penduduk dunia kelas menengah ke atas yang tak kenal sosok satu ini. Ia mantan analis intelejen AS yang membuka mata dunia akan praktik keji intelejen negaranya, AS.

Badan Keamanan Nasional AS (NSA) menyebutnya pengkhianat, tapi jutaan orang memuji keberaniannya mengungkap pelanggaran menakjubkan yang dilakukan AS selama bertahun-tahun.

Jose Mujica

Orang mengenalnya sebagai presiden Uruguay. Lebih dari itu, dunia mengenalnya sebagai presiden termiskin di dunia.

Ia menyumbangkan 97 persen gajinya, mengendarai Volkswagen Beetle tahun 1987, dan bersama istrinya sibuk menjual bunga yang ditanam di pekarangan rumah.

Mantan gerilyawan Marxist ini tinggal di Montevideo, ibu kota Uruguay, di sebuah rumah yang sangat sederhana miliknya. Dia menolak tinggal di istana.

Ia melegalkan marijuana dan perkawinana sesama jenis. Padahal, mayoritas rakyat Uruguay adalah pemeluk Katolik Roma.

Malala Yousafzai

Ia tidak seperti kebanyakan remaja Pakistan, atau remaja di belahan dunia mana pun.

Ia menatap kematiannya, ketika orang-orang Taliban melepas tembakan ke kepalanya tahun 2012. Ia selamat dan menjadi simbol kemenangan atas kesulitan.

Setelah itu ia menjadi penganjur pendidikan untuk anak perempuan, dan terus memperjuangkan hak-hak mereka untuk pergi ke sekolah. Ia menampatkan diri sebagai penentang hukum Islam tradisional seperti yang diterapkan Taliban.

Novaya Gazeta

Ini bukan nama orang, tapi sebuah surat kabar independen di Rusia.

Entah telah berapa wartawannya yang tewas akibat liputan-liputan yang mengkritik Presiden Vladimir Putin, tapi sikap koran ini tak bergeser sedikit pun.

Novaya Gazeta terus menuntut pertanggung-jabawan Putin atas semua pembunuhan wartawan. Semua dilakukan tanpa rasa takut.

Kini, Moskwa terperosok dalam konflik dengan Ukraina, yang membuat Novaya Gazeta punya alasan untuk terpilih menjadi peraih Nobel Perdamaian.

Jika itu terjadi, siklus moment yang membesarkan koran ini berlanjut. Momen pertama terjadi ketika Mikhail Gorbachev menggunakan uang dari hadian Nobel Perdamaian untuk memulai surat kabar ini di tahun 1990-an.

Kelompok Pasal 9 Jepang

Kelompok pasifis yang terus berjuang mempertahankan konstitusi yang melarang perang. Eksistensi kelompok ini menjadi penting ketika pemerintah Jepang saat ini sedang berupaya mengeluarkan Jepang dari negeri tak boleh punya pasukan menjadi negara normal dengan kekuatan militer.

Kelompok Pasal 9 Jepang mengatakan dengan begitu banyak perang, konstitusi yang menolak perang adalah solusinya.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: