
SUMENEP (bangsaonline)
Pemilihan duta wisata yang digelar Dinas KebudayaanPariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Sumenepberlangsung di Graha Adi Poday Kabupaten Sumenep, akhir pekan lalu, dinilai kurang mendapatkan apresiasi dari budayawan Sumenep. Bahkan, peserta yang terpilih dinilai tak kredibel.
Tajul Arifin, budayawan, mengatakan, pemilihan Duta Wisata yang diselenggarakan Disbudparpora Sumenep terkesan kurang mendapat sambutan. Bahkan, peserta terpilih sebagai pemenang Kacong-Ceping dinilai tidak masuk kriteria penilaian para Budayawan Sumenep.
"Kami para seniman dan budayawan tidak dilibatkan, hanya saja yang dilibatkan orang terdekat, bukan dilihat dari kualitas keilmuan. Padahal semestinya, keberadaan seniman, budayawan dan sejarawan di Sumenep benar-benar diperhatikan, setidaknya di dalam pembuatan soal tanya-jawab untuk peserta," kata dia.
Dicontohkan, saat Dewan Juri bertanya asal muasal keberadaan masjid Jami, peserta bilang warisan dari luar negeri. "Ini jelas-jelas salah tapi kenapa diloloskan? Jika setiap tahunnya pemilihan Kacong-Ceping seperti ini, maka peserta terpilih tidak akan pernah sampai ke tingkat Raka-Raki Jatim, karena pasti ketakutan tidak bisa menjawab pertanyaan yang disodorkan. Pemenangnya adalah karbitan," kritik dia.
Tajul menjelaskan, keberadaan Masjid Jami adalah warisan para Raja-Raja dari Sumenep dan menggunakan arsitektur dari Negara Cina Lau Chi Anu. "Ada banyak pertanyaan-pertanyaan dewan juri yang asal comot dan jawabnya juga asal-asalan. Hal ini benar-benar membingungkan. Jika kita harus jujur, diakui atau tidak, pemenang Kacong-Ceping kurang tepat, dinilai dari postur tubuh masih banyak peserta yang lebih gagah dan cantik, secara kecerdasan saya pikir masih ada peserta lain yang lebih cerdas. Ada apa ini?" tanya dia.



