SURABAYA(BangsaOnline)Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) tak lepas dari konflik mulai dari tingkat DPP dengan Hary Tanoe cs, sampai konflik internal di daerah seperti di Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, kali ini Ketua DPD Hanura Jatim, Kuswanto yang jadi lakonnya. Orang nomor satu di Partai Hanura Jatim itu resmi meletakkan jabatannya sebagai ketua partai sekaligus dari partai yang ikut ia dirikan tersebut.
Kuswanto dikabarkan kecewa dengan kebijakkan DPP yang tidak memberikan keleluasan kepada pengurus partai di daerah dalam menjalankan kebijakkan partai. Kuatnya intervensi DPP kepada daerah membuat roda organisasi partai di daerah berjalan lamban karena mereka tidak punya otoritas untuk mengambil kebijakkan tanpa persetujuan dari DPP.
Pengunduran diri Kuswanto itu langsung direspon DPP dengan menunjuk Wakil Bendahara Umum (Wabendum) DPP Hanura, Setiya Prijono SIp sebagai Plt Ketua DPD Partai Hanura Jatim. Pengangkatan Plt DPD Partai Hanura Jatim itu berdasarkan SKEP/476/DPP-Hanura/IX/2014 yang ditandatangani langsung oleh Ketum DPP Partai Hanura, Jenderal (pur) TNI Wiranto.
Terkait hal itu, Sekretaris DPD Partai Hanura Jatim, Ki Sudjatmiko mengakui adanya pengunduran diri Kuswanto, tapi Jatmiko demikian ia kerap disapa menampik ada masalah internal yang melatar belakangi mundurnya Kuswanto dari Hanura. Menurutnya, mundurnya Kuswanto semata-mata karena yang bersangkutan dipercaya sebagai dosen pasca sarjana Universitas Darul Ulum Jombang. Sementara disisi lain, ada syarat jika dosen pascasarjana tidak boleh berasal dari partisan.
‘’Memang pak Kuswanto sudah pamit kepada kita dan yang bersangkutan resmi telah mengundurkan diri dari Partai Hanura. Dan sekarang Pak Kuswanto terjun ke dunia pendidikan tepatnya sebagai dosen Fakultas Hukum Universitas Darul Ulul Jombang,’’ terang Jatmiko, kemarin.
Terpisah, Kuswanto yang diklarifikasi lewat telepon genggamnya mengakui pengunduran dirinya dari jabatan Ketua DPD Partai Hanura Jatim sekaligus dari Partai Hanura. Alasannya, dirinya diminta oleh rektor Universitas Darul Ulum Jombang, KH. Mudjib Musta’in yang baru menjabat dua bulan untuk menjadi dosen disana.
‘’Kebetulan KH Mudjib Musta’in adalah teman lama, jadi ketika diajak untu membesarkan Universitas Darul Ulum Jombang langsung saya terima. Agar saya dapat bekerja secara profesioanal dan totalitas, maka saya putuskan untuk mengundurkan diri dari Partai Hanura Jatim,’’ tandas Doktor ilmu hukum dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.
Alasan lain, menurut pria yang pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Jatim ini karena situasi perpolitikan di Indonesia semakin sulit dan persaingan begitu ketat antar partai politik (parpol), maka dirinya memilih untuk memperbaiki akhlak para generasi muda dengan menjadi pendidik. Artinya seorang politis tidak saja dituntut hanya pandai berdiplomasi saja, tapi akhlak harus juga baik.
"Saya lebih memilih jalur kampus untuk memperbaiki akhlak para generasi muda kita. Saya berharap kedepannya para generasi muda kita dapat bersaing dengan negara lain,’’papar mantan Ketua Fraksi Hanura Damai di DPRD jatim periode 2009-2014. (mdr/ns)




