Kekeringan, Warga Bojonegoro Makan Gaplek

Kekeringan, Warga Bojonegoro Makan Gaplek

BOJONEGORO (bangsaonline) - Warga sekitar ladang minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip Blok Cepu di Bojonegoro mulai mengalami paceklik pangan saat menghadapi musim kemarau panjang tahun ini. Warga kini mulai makan nasi gaplek dan nasi jagung lantaran persediaan beras sudah habis.

Sakiyah (65) warga Dukuh Mojo, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam Bojonegoro mengaku sudah sebulan terakhir ini mengonsumsi gaplek. Terkadang ia juga makan nasi jagung. "Persediaan gabah dan beras sudah habis. Makanya sekarang makan gaplek dan nasi jagung," tutur Sakiyah lirih.

Selama musim kemarau ini lahan sawah Sakiyah seluas seperempat hektare ditanami jagung dan singkong. Sebagian hasil panen jagung dan singkong itu dijual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan sebagian lainnya dibuat gaplek dan nasi jagung untuk dimakan Sakiyah dan keluarganya.
Sakiyah menuturkan, untuk membuat nasi gaplek cukup mudah. Semula singkong hasil panen dikelupas kulitnya lalu dipotong-potong menjadi ukuran tertentu. Kemudian, singkong kuning itu dijemur hingga kering di halaman rumah. Potongan singkong itu lalu diselep atau ditumbuk hingga halus.

"Setelah itu tinggal dimasak seperti halnya memasak nasi beras. Jadilah nasi gaplek atau orang sini menyebutnya nasi tiwul," ucap Sakiyah.
Tidak hanya Sakiyah, warga desa lainnya juga banyak yang menjemur gaplek di halaman rumah. Juki, 56, misalnya menjemur singkong bahan baku gaplek sebanyak tujuh sak di halaman rumah. Namun, gaplek itu sebagian banyak dijual ke pasar untuk ditukar dengan beras.

Juki menuturkan, harga jual gaplek Rp 1.700 per kilogram. Sedangkan, harga jual jagung kering Rp2.600 per kilogram. "Sudah biasa saat memasuki musim kemarau petani di Desa Mojodelik makan nasi gaplek atau nasi jagung itu. Sebab, cadangan gabah dan beras sudah habis," ujar Juki
Juki mempunyai lahan sawah tadah hujan seluas seperempat hektare di Desa Mojodelik. Lahan sawah itu hanya bisa ditanami padi saat musim hujan. Sedangkan, saat musim kemarau lahan sawah itu hanya bisa ditanami palawija seperti jagung dan singkong. Itu pun bisa ditanami saat awal musim kemarau."Setelah panen jagung dan singkong, lahan sawah itu dibiarkan bero atau tidak tergarap. Menunggu datangnya musim hujan baru tanam lagi," ujarnya.

Kemiskinan masih membayangi warga Desa Mojodelik. Padahal, desa ini merupakan penghasil minyak mentah lapangan Banyu Urip Blok Cepu di Bojonegoro. Di bawah perut bumi desa ini terkandung cadangan minyak mentah sebesar 450 juta barel yang kini terus disedot.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro memperingatkan pada warga Bojonegoro bersiap menghadapi bencana kekeringan panjang selama musim kemarau ini. Bencana elnino lemah melanda wilayah Bojonegoro sejak awal Juni hingga Desember mendatang. Bencana elnino lemah ini ditandai dengan adanya kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran.


Kekeringan, Warga Bojonegoro Makan Gaplek