Tiga Pejuang Jatim Peroleh Penghargaan Bintang Gerilya


SURABAYA (bangsaonline) - Tiga pejuang asal Jatim mendapatkan penghargaan Bintang Gerilya dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan tersebut diberikan oleh Gubernur Jatim Soekarwo, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-69 Minggu (17/8/2014). Ketiga penerima penghargaan itu adalah Asiyah (85) asal Ploso Surabaya, Moestadjab (96) asal Menganti Gresik, dan Misri (89) asal Gubeng Jaya Surabaya.

Menggunakan tongkat, Asiyah yang lahir pada 17 Agustus 1929 itu didampingi anak pertamanya Bambang Sasongko menerima penghargaan. "Baru kali ini saya mendapatkan penghargaan. Dulu-dulu tak pernah," tutur ibu 6 anak, 17 cucu dan 3 cicit itu.

Asiyah merupakan anggota dewan harian ranting 45 Barisan Pejuang Republik Indonesia Kecamatan Tambaksari. Ia mengaku dulunya adalah polwan dengan jabatan peltu dan pensiun tahun 1976. "Saya dulu juga mencari berita seperti sampeyan ini. Tetapi saya cari beritanya saat zaman Belanda," ungkap Asiyah.

Ia berharap, pemerintah sekarang adil menggunakan kekayaan negara. "Jangan hanya pejabatnya saja yang menikmati kekayaan negara. Rakyat juga harus bisa menikmatinya," sebut Asiyah.

Sementara itu Moestadjab mengaku selama ia dulu berjuang tidak mengharapkan imbalan apa-apa. "Saya dulu ikut berjuang karena iklas. Perang saja gak dibayar itu demi kecintaan terhadap negara. Alhamdulillah saya bisa menikmati kemerdekaan sampai sekarang. Umur gak tahu sampai kapan. Rejeki nek sampeyan saiki sek iso motret aku," ujar Moestadjab ketika bertutur kepada bangsaonline.

Disisi lain, Misri yang tadi juga diantar anaknya dulu saat zaman perjuangan merupakan teliksandi atau inteligen. "Saya dulu itu waktu perang menjadi bagian dari palang merah bagian kesehatan merangkap inteligen di wilayah Rayon Mojosari. Tentara zaman dulu kan gak ada jabatan. Saya juga iklas berjuang. Saya senang mendapatkan penghargaan dari presiden ini," ungkap Mistri. Ibu 8 anak ini mengaku, ia dulu mengawasi barang-barang selundupan dari Belanda. Kata dia, ada kode-kode dan simbol tersendiri yang diajarkan kepadanya seperti ayam jago menggunakan tato.

"Saya bahagia menjadi bagian merebut kemerdekaan Indonesia. Kalau sudah merdeka begini, saya minta harga-harga barang pokok jangan mahal. Kasihan ibu-ibu di Indonesia kalau harga apa-apa mahal," pungkasnya.


Tiga Pejuang Jatim Peroleh Penghargaan Bintang Gerilya