SUMENEP (bangsaonline)-Sebanyak
10 aktivis yang tergabung dalam Lingkar study pemuda madura (Laksamuda)
Sumenep, menggelar aksi bakar keranda mayat didepan kantor Kejaksaan
Negeri (Kejari) setempat, Senin (17/03) pagi.
Aksi itu sebagai
simbol berita kematian supremasi hukum di Sumenep. Tanpa mengenakan baju
dengan tubuh penuh coretan, para aktivis pun terus meneriakkan tuntutan
jaksa agar bersikap tegas dalam menangani kasus korupsi.
"Kami
sengaja bakar keranda mayat, ini bukti mandulnya penegak hukum di
Sumenep terhadap kasus korupsi," tegas Korlap aksi, Khoirul Umam.
Ia
menduga ada permainan antara Jaksa dengan pejabat yang tersandung kasus
korupsi. Seperti kasus SMA Batuan yang tidak kunjung ada penetapan
tersangka.
"Hasil kajian kami, mestinya kasus SMA Batuan sudah
ada tersangka. Jelas sekali kalau NJOP-nya tidak sesuai ketentuan,
ditambah keterangan para saksi. Kalau masih belum mengerucut pada satu
nama, berarti ya jaksanya yang letoy," tandasnya.
Untuk itu,
pihaknya menuntut Kejari Sumenep agar mempertegas seluruh penanganan
kasus korupsi di Sumenep, salah satu diantaranya kasus SMA Batuan.
"Kalau memang tidak mampu bekerja profesional, silahkan mundur!,"
pungkasnya.
Puluhan aktivis Laksamuda itu, akhirnya ditemui oleh Sugiyanto, Kasi Pidsus Kejari Sumenep.
"Sampai
saat ini semua kasus korupsi masih dalam proses pengumpulan data. Jadi,
belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Kita tidak diam, kita
bekerja. Hanya saja butuh waktu yang cukup lama," ungkap Sugiyanto,
dihadapan para pendemo.
Ia meminta waktu untuk menyelesaikan
semua kasus yang ditangani Kejari Sumenep. "Kita pasti secepatnya
tuntaskan kasus tersebut. Tuntutan adik-adik pun akan disampaikan kepada
bapak Kajari Sumenep, Roch Adi Wibowo," ujarnya.
Usai mendapat
penjelasan, para pendemo memberikan "Jamu tolak angin" kepada jaksa,
agar tidak lemah dalam menangani kasus korupsi. Setelah itu, mereka
membubarkan diri dengan tertib sambil dikawal aparat Polres
Sumenep.




