Jokowi Harus Siap Hadapi Kekecewaan Rakyat atas Susunan Kabinet

Jakarta(bangsaonline)Adalah hak capres terpilih, Joko Widodo, untuk menyusun kabinet dengan cara meminta masukan dari masyarakat luas, termasuk lewat media sosial

Dalam wawancara di program "Isu Terkini" yang dipublikasikan melalui kanal youtube (klik disini), pada Kamis malam (7/8), Presiden SBY mengatakan, cara yang digunakan Jokowi tidak perlu dirisaukan.

Presiden pun mengklaim bahwa ia sendiri mendengarkan banyak pandangan dan masukan dari masyarakat ketika menyusun kabinet di waktu-waktu lalu akan memerintah. Namun, langkah-langkah itu tidak dilakukan secara terbuka dan tidak diumumkan.

"Dari apa yang saya dapatkan itu memang banyak sekali usulan, rekomendasi, permintaan dari masyarakat luas," katanya, seperti diberitakan situs sekretariat kabinet.

SBY memberikan contoh saat ia akan menentukan calon wakil presiden (Cawapres) yang akan mendampinginya pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2009. Menurut SBY, saat itu ada tiga nama. Ia meminta sebuah lembaga survei yang kredibel untuk melakukan survei dari tiga nama yang itu.

"Nah, dari situ saya tahu mana yang paling disukai oleh rakyat kita, tentu dengan kriteria yang saya tetapkan sendiri. Itu pengalaman saya," papar SBY.

Karena itu, kalau Jokowi sekarang memilih cara yang sama dalam memilih calon anggota kabinet pun harus dihormati. Hanya saja SBY mengingatkan agar nanti Jokowi bersiap-siap mengahadapi kekecewaan masyarakat setelah susunan final kabinet diumumkan.

"Masyarakat kita ini mudah tidak puas. Jago-jagonya, calon-calon yang diunggulkan, direkomendasikan, misalnya tidak masuk. Jokowi pada saatnya harus menjelaskan kepada publik mengapa harus memilih Si A, dan bukan memilih Si B," jelas SBY.

Menurut dia, konsekuensi atau risiko dari apa yang terjadi sekarang ini karena masyarakat diundang secara terbuka untuk memberikan masukan, bahkan untuk ikut memilih.

Sementara Relawan Jokowi-JK yang sudah habis-habisan memenangkan pasangan itu diimbau tidak terlalu mengkhawatirkan kehadiran Kepala Kantor Transisi Jokowi-JK, Rini Soemarno.

Sebelumnya, ada beberapa kekhawatiran dari relawan, terutama mereka yang idealis. Rekam jejak Rini dianggap tidak bersih. Misalnya, dugaan keterlibatan dalam kasus BLBI atau skandal pengadaan Sukhoi dari Rusia sewaktu menjabat Menperindag era Megawati Soekarnputri. Kehadiran Rini juga makin membuktikan Jokowi rawan intervensi Megawati.

"Kawan-kawan relawan yang sudah bekerja jangan khawatir berlebihan. Rini itu hanya sampai jadi 'Ketua Rumah Transisi' karena dia punya pengalaman di Kabinet. Dari lima personal (Tim Transisi) itu hanya Rini yang paham Koordinasi Kerja Menteri Kabinet," kata politisi PDIP di MPR RI, Bambang "Beathor" Suryadi, dalam pesan singkat ke redaksi (Jumat, 8/8).

Sedangkan, Hasto Kristiyanto (PDIP) dan Akbar Faizal (Nasdem) memahami politik anggaran karena pernah menjadi Anggota DPR. Sedangkan dua personel lagi, Anies Baswedan dan Andi Widjajanto berpengalaman jadi "pengamat" dan akademisi. Anies dan Andi dianggapnya bersih dari permainan politik dan karena itu jernih pula melihat permasalahan.

"Itu saja potensi mereka membangun program yang harus dikerjakan Jokowi-JK, dan mereka hanya sebatas itu, tidak ikut dalam gegap gempitanya menteri Kabinet," jelas pria yang cukup dikenal di kalangan aktivis anti Orde Baru ini.

"Jadi, walau kita memandang Rini punya dosa dan masalah, dia tetap ingin punya arti untuk membantu Kabinet Jokowi- JK, untuk tidak bermasalah dalam kerja-kerja mencapai rakyat sejahtera," tambah Beathor.


Jokowi Harus Siap Hadapi Kekecewaan Rakyat atas Susunan Kabinet