SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Taman indah seantero Surabaya, tentu butuh pupuk yang tak sedikit. Nah, salah satu pemasok pupuk kompos untuk kebutuhan taman di Surabaya berasal dari Pusat Pengolahan Daur Ulang Sampah di Keluharan Jambangan.
Pengolahan sampah yang lokasinya persis di bawah tol Jambangan ini, bisa mengupulkan sampah 5-6 ton dalam satu hari dari satu kelurahan saja. Dwijo Warsito (38), pengawas Pusat Daur Ulang Jambangan mengungkapkan bahwa kesadaran warga memilah sampah saat ini kian tinggi.
“Sampah anorganik yang terkumpul kita jual, sementara sampah organik diolah menjadi pupuk-pupuk untuk taman di Surabaya, kadang ada warga yang minta, kita beri gratis,” ujar Warsito.
Warsito menandaskan, dalam pengolahan kompos, dia menggunakan metode “kue lapis”. Yaitu menumpuk sampah organik secara bersusun dan berlapis-lapis. Bagian bawah didasari daun kering, bagian tengah sampah organik basah, di atasnya ditumpuk sampah kering lagi.
“Metode ini dilakukan untuk menghilangkan kadar air di dalam sampah, agar tidak menimbulkan aroma busuk dan belatung. Pada hari tertentu tumpukan sampah itu dibalik dan dicampur hingga berusia kurang lebih 21 hari,” ujar Warsito.
Warsito menjelaskan, ada 14 orang yang bertugas untuk melakukan pemilahan sampah, dan 5 orang bertugas untuk pengomposan sampah. “Pekerja di sini memiliki tugas masing-masing, ada yang memisahkan sampah anorganik dan organik. Yaitu yang memiliki nilai jual seperti kantong plastik, botol minuman, kertas, kardus, sampah makanan, sampah produk-produk lainnya, proses memisahkan sampah ini dilakukan beberapa orang,” ujar Warsito.
Kata Warsito, sebanyak 70 persen hasil penjualan sampah anorganik diberikan ke pemilah, 30% lainnya digunakan untuk biaya operasional, simpan-pinjam dan tabungan hari raya. “Selain dapat keuntungan dari hasil penjualan sampah anorganik, mereka juga dapat gaji dari Pemkot Surabaya satu orang sebesar Rp75 ribu per hari” tambah Suwito. (Disna UTM)

metode kue lapis.




