Masjid Al-Hidayah Gedangan Berukir Lafadz Alquran

Arsitektur sebuah masjid kerap dipengaruhi kondisi sosial masyarakat saat masjid pertama kali dibangun. masjid Al-Hidayah Gedangan, Sidoarjo, misalnya, bangunannya semula berupa bangunan joglo, ciri khas bangunan kebudayaan Jawa. Masjid ini juga memiliki ciri khas, sejumlah bagian bangunannya terukir dengan lafadz Alquran.


Masjid Al-Hidaya Gedangan berada di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Gedangan. Masjid persis berada di pinggir jalan propinsi, jalan poros Sidoarjo-Surabaya. HARIAN BANGSA mengunjungi masjid ini, Jum’at (18/7) kemarin. “Hingga kini belum diketahui pasti, siapa pendiri masjid ini,” cetus Ketua Takmir Masjid Al-Hidayah, Achmad Basori Mu’thi.

Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi dengan total lahan 1.600 meterpersegi. Bangunan masjid termasuk unik karena sejumlah bagian bangunannya terdapat ukiran kayu jati dengan motif Alquran. Soal pendiri masjid, Achmad Basori menduga, didirikan oleh sesepuh desa setempat, yang bernama Kiai Obong atau Raden Kanjeng Jimat.

“Insya Allah, kami menduga bahwa pendiri masjid adalah Kiai obong atau yang dikenal dengan nama pendiri Raden Kanjeng Jimat sesepuh desa sini,” ujarnya sambil menunjukkan makam tunggal yang mempunyai batu nisan besar, di belakangan bangunan masjid.

Masjid yang berdiri sekitar tahun 1907, sebelum mengalami perombakan bangunan secara total, bangunan masjid tersebut berupa bangunan joglo. Pria yang sebentar lagi memasuki usia 55 tahun itu menceritakan, sebelum kondisi bangunan di lakukan perubahan selama tiga kali, kondisi bangunan masih berupa bangunan joglo.

Perehaban bangunan mulai dilakukan sekitar pada tahun 1980 dan 1981 ,hanya melakukan perluasan akibat semakin meningkatnya jamaah yang hadir. Sedangkan pada tahun 1998 hingga 2000 perubahan pada kubah masjid yang bangunanya sudah rapuh. Perubahan secara total dilakukan pada tahun tahun 2009 hingga tahun 2010 dilakukan karena bangunan yang sudah tua dan rentan ambruk.

Fasilitas yang ada di masjid itu meliputi kantor takmir, kantor TPQ, Lembaga Amil Zakat al Hidayah, perpustakaan serta kantor satpam yang menjaga keamanan bagi orang yang beribadah di tempat tersebut.

Untuk kegiatan sehari-hari, selain digunakan untuk salat berjamaah lima waktu, runitinitas kegiatan juga padat. Masjid yang mempunyai satu menara dengan 8 alat pengeras suara tersebut dalam rutinitas, diisi dengan sejumlah kegiatan positif. ”Saat Senin malam dilakukan pengajian kitab Miftahul Akhyar. Rabu malam, belajar qiroah bagi anak usia dini dan manula, ” jlentreh Achmad Basori Mu’thi.

Selain itu, setiap satu bulan sekali, setiap Sabtu Pon dilakukan khataman oleh Hafidz dan Hafidzah. “Dan di akhir bulan minggu terakhir tiap bulan di lakukan khataman oleh ibu muslimat,” beber Achmad Basori Mu’thi.

Saat bulan Ramadan kegiatan di masjid malah semakin ramai. Selain khotmil Qur’an setelah solat tarawih, bakda Subuh, ada kutum setelah salat Subuh setiap hari dengan nara sumber yang berbeda setiap dua hari sekali.

Ada juga Kajian Ahad Pertama dan Ketiga dengan kitab tafsir ibris sama hadist Bukhori muslim. Selain itu kegiatan Remaja Masjid juga ikut aktif dalam membantu pelaksanaan kegiatan masjid, misalnya saat melakukan pembagian takjil gratis. ”Kemarin baru saja mengadakan lomba Banjari Tingkat Jatim dan akan mengadakan lomba musik Patrol tingkat Jatim” ujarnya.

Pertanda jika Masjid Al-Hidaya sudah berusia tua, salah satunya adanya sejumlah makam tua, yang ada di kompleks masjid. Makam itu, diantaranya makam pejabat jaman dahulu, yakni makam Bupati Residen Surabaya R Djoko Soekarno Prawiro Amiprojo, makam Wedono Gedangan R Prawiro Adimedjo.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: