Masjid Tegalsari Ponorogo Miliki Kubah Tanah Liat

Kubah Masjid Tegalsari Ponorogo misalnya, disebut-sebut tidak rusak meski berkali-kali diberondong peluru pasukan Belanda kala jaman penjajahan Belanda. Padahal kubah itu berbahan tanah liat.


Cerita kokohnya kubah Masjid Tegalsari Ponorogo diperoleh kala Harian BANGSA berbincang dengan mbah Sujak, sesepuh Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Di Desa Tegalsari inilah, masjid Tegalsari berdiri, tepatnya di Dusun Gendol RT 1/RW 2, 10 kilometer arah tenggara dari pusat kota.

Masjid Tegalsari ini, kini merupakan salah satu obyek wisata reliji di Kabupaten Ponorogo. Bahkan, masjid tersebut dipercaya sebagai masjid cikal bakal pusat penyebaran Islam di bumi reog. Masjid ini pernah dikunjungi mantan Presiden RI, HM Soeharto dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Masjid Tegalsari dipercaya merupakan peninggalan Kyai Ageng Muhammad Besari seorang ulama sakti dan berbudi luhur yang konon merupakan keturunan ke sebelas Nabi Muhammad SAW. “Masjid ini tiap hari dikunjungi ratusan orang untuk ngalap berkah,” cetus mbah Sujak, yang juga juru kunci kompleks makam Kyai Ageng Muhammad Besari.

Dalam bulan ramadan, masjid ini juga ramai dikunjungi warga luar dan dipakai untuk kegiatan ibadah selama ramadan. “Salah satu keunikan masjid ini, kubahnya masih asli dan terbuat dari tanah liat (sejenis gerabah),” beber mbah Sujak. Kata mbah Sujak, kubah ini menurut cerita pada jaman Belanda pernah diberondong peluru pasukan Belanda, namun tidak hancur.

Selain kubah, masjid juga memiliki empat buah pilar yang masing-masing pilar dipercaya memiliki kekuatan tersendiri, jika ada orang yang berdoa dekat pilar tersebut. Masjid Tegalsari juga terdapat payung kebesaran yang konon, untuk tolak bala kala ada kerusuhan di Desa Tegalsari.

“Ada juga peninggalan Batu Tangga peninggalan Kerajaan Majapahit berukuran 1 x 0,6 meter dan ruang pertemuan Dalem Njero yang merupakan tempat peristirahatan Kyai Ageng Muhammad Besari yang berada di seberang jalan masjid,” jlentreh mbah Sujak.

Masjid Tegalsari didirikan oleh Kiai Ageng Besari pada tahun 1760. Menurut Afif Azhari, Ketua Yayasan Kiai Ageng Besari, rehab pertama menyalahi bestek, sehingga hampir mengubah wajah asli bangunan masjid di atas lahan seluas satu hektar itu. Dengan penambahan serambi dan bangunan di sisi kiri-kanan masjid. “Namun, rehab terakhir berusaha dikembalikan lagi seperti aslinya,” ujar Afif.

Secara arsitektural, masjid ini memiliki langgam Jawa kuno. Terdiri dari tiga bangunan yang saling berhimpit, berorientasi barat-rimur, bangunan masjid beratap tajug tumpang riga terletak paling barat. Di dalam interior terdapat empat buah saka guru, 12 sakarawa, dan 24 saka pinggir penyangga atap tajug yang dipasang dengan sistem ceblokan.

Struktur atap tajug diekspose, sehingga dapat diketahui bahwa brunjungnya merupakan jenis atap tajug peniung atau payung agung, karena usuknya disusun secara sorot. Selain itu, juga juga terdapat mimbar kayu berukir, yang sebetulnya merupakan replika dari mimbar asli yang telah rusak.Mihrabnya merupakan sebuah ceruk yang dibingkai kayu ukiran dengan bentuk dan stilirasi dari kalarnakara.

Di sebelah rimur masjid terdapat pendopo beratap limasan. Di sebelah timur pendopo terdapat bangunan tambahan beratap kubah metal dengan proporsi sangat pendek. Bangunan tambahan ini termasuk bangunan yang dibuat atas dana bantuan dari Soeharto.

Bangunan kuno lainnya yang masih terjaga adalah rumah Kyai Ageng Besari, yang berada di depan masjid. Rumah itu dikenali sebagai rumah adat satu-satunya yang masih ada. Karena itulah, pemerintah setempat menetapkan kawasan ini sebagai obyek wisata religi.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pemkab Ponorogo, Sapto Djatmiko menjelaskan bahwa masjid Kyai Muhammad Besari selesai dipugar dan diresmikan oleh Presiden RI Ke 2 HM. Soeharto pada 2 Maret 1978 silam. (prg-1/lan/sta-bersambung)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: