Gapai Target MOP, DP3AK Kota Mojokerto Gelar Nobar dan Nunut Ludruk Sasar Masyarakat Bawah

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AK) Kota Mojokerto sempat dibuat kelabakan karena tingginya target keikut sertaan KB pria MOP tahun ini. Pihak BKKBN Provinsi Jatim memasang target minimal 73 peserta KB Jaring Metode Operasi Pria, jauh di bawah target pemda setempat yang hanya mematok angka 23 orang.

Tak cuma dituntut memikirkan anggaran tambahan KB berhadiah Rp 500 ribu ini per orang, kini Satker keluarga berencana tersebut wajib mencari jiwa siapa kira-kira yang mau "dikhitan" untuk mengendalikan laju pertumbuhan Kota kecil berpenghuni 143 ribu jiwa ini.

"Awalnya sempat bingung juga, targetnya tinggi banget. Jauh melampaui target MOP tahun lalu yang hanya 7 orang. Tapi sampai triwulan ketiga ini kami sudah mendapatkan 23 orang peserta MOP karena program nobar (nonton bareng, Red)," tutur Kepala DP3AK, Moch. Ali Imron, (10/4) kemarin.

Imron mengaku menggunakan sejumlah cara untuk menggapai target tersebut. "Sengaja kami menyisir masyarakat bawah dengan menggelar nobar berhadiah sembako. Pemutaran film-film bertema perjuangan dan KB ini memberi dua manfaat sekaligus, yakni membangkitkan semangat nasionalisme dan pencerahan masyarakat terhadap pentingnya ikut KB," paparnya.

Kata ia, pemutaran film keliling yang pernah ngetren pada era 90'an ini mendapat sambutan hangat dari semua kalangan. Pihaknya, juga menjadi "sponsor" dalam acara hajatan warga yang nanggap Ludruk.

"Banyak anak-anak yang nonton, tapi itu menjadi pendidikan KB bagi anak usia dini. Kalau Ludruk, itu ceritanya nunut promosi KB," akunya tergelak.

Tidak hanya itu, pihaknya juga aktif mensosialisasikan program vasektomi ini ke warung-warung dan pasar. "Kita mampir ke warung-warung kopi, mensosialisasikan KB ini. Termasuk juga ke pasar," kata pria tambun penikmat kopi ini.

Ia tak menampik anggapan salah mengenai KB vasektomi. "Masyarakat masih mengangap KB vasektomi adalah momok. Takut tidak bisa ereksi, padahal itu salah karena justru sebaliknya menambah keharmonisan pasutri," katanya.

Sementara itu, Nanang, Ketua RW 9 Kedungsari, Kecamatan Magersari mengatakan senang dengan program ini karena mendidik masyarakat. "Program layar tancap keliling ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat, karena mendidik dan nostalgia masa lampau," katanya.

Menurut ia, ketika layar tancap ini diputar di lingkungannya, tanpa diminta warganya datang langsung menonton film. "Apalagi filmnya bagus-bagus. Tentang perjuangan melawan penjajah," jlentrehnya.

Soal KB MOP sejumlah warganya ikut serta dalam program ini. "Ada warga kami yang ikut. Dan ini sistemnya getok tular dari mulut ke mulut," pungkasnya. (yep/rev)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: