SURABAYA(BangsaOnline)- Komnas HAM mendukung penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak karena aktifitas di tempat tersebut merendahkan martabat manusia, utamanya perempuan. Dan itu, merupakan pelanggaran HAM. "Memang dilematis ya, soalnya kan Dolly itu sudah bertahun-tahun, ada lingkaran ekonomi di sana," ujar Wakil Ketua Eksternal Komnas HAM Siane Indriani, saat audiensi dengan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf di ruang kerja, Rabu (25/6/2014).
Ia melihat, penutupan yang sudah berlangsung seminggu ini tidak ada sisi negatifnya. Kalaupun ada pro dan kontra, itu karena ada pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan secara ekonomi. "Tapi menurut saya ini sudah kelamaan, 100 tahun itu lama. Jangan sampai dibiarkan saja hingga dianggap sebagai kebijakan (membiarkan Dolly tetap dibuka). Yang dilakukan pemerintah sudah tepat (menutup Dolly)," kata Sieane.
Yang tak boleh diabaikan, lanjutnya, adalah pengawalan terhadap para korban penutupan. Jangan sampai mereka menjadi miskin. Harus ada pekerjaan yang lebih bermartabat sebagai gantinya. "Bagaimana caranya? Ini tergatung ketegasan pemerintah. Disana (kawasan Dolly) bisa diubah menjadi kawasan yang produktif. Misalnya jadi tempat kuliner atau menjadi pusat ekonomi kreatif," pungkas dia.




