
KEDIRI (bangsaonline) - Beberapa titik air bawah tanah di Kota Kediri,
Jawa Timur mengandung Mangan atau zat besi. Hal itu diketahui saat pihak
Pemkot Kediri melakukan uji sampling air bawah tanah di 46 kelurahan
pasca erupsi Gunung Kelud.
Kepala Bagian Humas Pemkot Kediri Jawadi mengatakan, dari hasil uji
sampling di 46 Kelurahan, ada 2 titik yang air bawah tanahnya mengandung
kadar zat besi cukup tinggi. Yakni, di Kelurahan Ngadirejo dan
Kelurahan Semampir. "Dua daerah itu diketahui, air bawah tanahnya
mengandung cukup tinggi kadar Mangan-nya," kata Jawadi, Kamis
(13/3/2014).
Dari hasil uji sampling, kata Jawadi, diwilayah Kelurahan Semampir
kandungan zat Mangan mencapai 1,62, sementara di Kelurahan Ngadirejo
2,16. Padahal sesuai permenkes no 32/2006, ambang batas kadar air bawah
tanah yang layak konsimsi, kandungan zat Mangan maksimal 0,5. "Di dua
wilayah itu cukup tinggi kadar Mangan-nya, dibandingkan daerah lain,"
ujarnya.
Pihaknya merekomendasikan, jika dua daerah itu, air bawah tanahnya tidak
layak, jika dikonsumsi untuk makan dan minum. "Jika dikonsumsi dalam
jangka waktu yang lama, air bawah tanah disua wilayah itu bisa merusak
organ tubuh dalam manusia," jelasnya.
Untuk itu, pihaknya berharap, agar masyarakat yang tinggal di dua
wialayah itu untuk mencari sumber mata air ditempat lain atau memakai
air PDAM. "Kami hanya bisa menghimbau, karena kandungan zat besi yang
cukup tinggi diatas ambang batas, masyarakat yang tinggal di dua wilayah
itu untuk mencari sumber mata air ditempat lain atau mengambil PDAM,"
harapnya.



