Banjir dan Longsor di Jawa Tengah: Korban Tewas terus Bertambah, Pencarian Diperpanjang

PURWOREJO, BANGSAONLINE.com - Korban tewas akibat banjir dan tanah longsor di 16 kabupaten/kota di provinsi Jawa Tengah terus bertambah. Selain korban meningal, ribuan rumah juga hancur disapu banjir atau tertimbun longsor. 16 wilayah yang dilanda banjir dan longsor masing-masing Purworejo, Banjarnegara, Kendal, Sragen, Purbalingga, Banyumas, Sukoharjo, Kebumen, Wonosobo, Pemalang, Klaten, Magelang, Wonogiri, Cilacap, Karanganyar, dan Kota Solo.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian korban hilang yang tertimbun longsor di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Pada Senin, 20 Juni 2016 sekitar pukul 9.00 hingga 12.00 WIB, Tim SAR gabungan menemukan lagi 4 korban dalam kondisi meninggal dunia.

Tiga orang ditemukan di Desa Donorati Kecamatan Purworejo dan satu orang ditemukan di Desa Caok/Karangrejo, Kecamatan Loano. Dengan demikian, total korban bencana banjir dan longsor di Jawa Tengah adalah 47 tewas dan 15 orang hilang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan menuturkan, pencarian korban difokuskan di Desa Donorati yang diperkirakan masih ada 6 orang hilang dan di Desa Caok/Karangrejo ada 8 orang.

“Sementara itu, di Desa Jelog Kecamatan Kaligesing masih ada satu orang hilang,” ujarnya.

Sekitar 250 personel Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, NGO, sukarelawan masyarakat mencari korban hilang di Desa Donorati.

Akses jalan yang sebelumnya tidak bisa dilalui, saat ini sudah diperbaiki, sehingga tiga alat berat dapat membantu pencarian korban. Kondisi tanah labil dan potensi longsor susulan masih tinggi jika hujan di bagian hulu. Sedangkan, di Desa Caok/Karangrejo, tim SAR gabungan berjumlah sekitar 200 personel terus melakukan pencarian korban.

Kepala BNPB Willem Rampangilei, bersama Bupati Purworejo, Ketua Komisi VIII DPR RI, dan pejabat BNPB di lokasi longsor di Purworejo untuk mendampingi BPBD dalam penanganan darurat.

Sutopo mengungkapkan, daerah longsor yang terjadi di Purworejo, Kebumen, dan Banjarnegara merupakan daerah rawan sedang hingga tinggi longsor. Adanya pemicu hujan lebat menyebabkan longsor terjadi dan menimbulkan korban jiwa. “Perlu ada upaya mitigasi stuktural dan non struktural untuk melindungi masyarakat dari bahaya longsor,” katanya.

Ke depan, penataan ruang yang berbasis peta rawan longsor perlu lebih ditegakkan dalam implementasinya untuk melindungi masyarakat dari longsor.

“Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaannya mengingat potensi banjir dan longsor masih tetap tinggi seiring dengan hujan lebat masih berpotensi tinggi,” kata dia.

Dia menambahkan, operasi tim SAR gabungan untuk menemukan korban bencana banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah akan diperpanjang sesuai kebutuhan.

Pihak BNPB menerjunkan lima tim penyelamat ke Jawa Tengah. Selain tim dari pusat, penanganan bencana juga dipimpin langsung oleh bupati setempat bersama tim BPBD, Tagana, TNI, Polri dan relawan. Selain tim, pemda juga mendirikan posko kesehatan, posko informasi dan dapur umum.

Data yang dihimpun dari BNPB, daerah yang mengalami longsor terparah adalah Kabupaten Purworejo. Longsor di daerah tersebut terjadi di sembilan desa yang berada di empat kecamatan.

Sementara itu, bencana banjir terparah terjadi di Kabupaten Kendal, Kabupaten Sukoharjo dan Kota Solo. Banjir di Kendal melanda 37 desa yang berada di tujuh wilayah kecamatan. Di Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo berdampak kepada 9.690 keluarga. Akibat banjir di tiga wilayah itu, ada ribuan rumah warga yang masih terendam banjir. Beberapa ruas jalan mengalami kemacetan akibat air banjir yang belum surut.

Sementara itu, volume air sungai di Bengawan Solo yang melintas di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus dipantau menyusul bencana banjir yang terjadi di Jawa Tengah pada Sabtu (18/6) lalu.

"Seluruh BPBD di aliran Bengawan Solo saat ini berkumpul di Bojonegoro untuk membahas antisipasi banjir kiriman dari Jawa Tengah," kata Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, Senin (20/6).

Laporan yang diterimanya berdasarkan laporan petugas di Bendungan Karangnongko di Bojonegoro, hingga pukul 08.15 WIB, Senin (20/6), kondisi volume air masih di titik 26 meter.

"Batas maksimal atau status siaga merah di bendungan Karangnongko 30 meter," jelasnya. Di waktu yang hampir bersamaan, volume Sungai Bengawan Solo di kota Bojonegoro juga masih menunjukkan kondisi aman, yakni mencapai 12,5 meter, dari titik kritis yang mencapai 15 meter.

"Selain belum berpotensi banjir, air kiriman juga dipastikan tidak sampai merembes dari celah-celah tanggul karena kondisi seluruh tanggul di sepanjang Bengawan Solo, juga dalam keadaan kokoh," tambahnya. (det/mer/yah/lan)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Banjir dan Longsor di Jawa Tengah: Korban Tewas terus Bertambah, Pencarian Diperpanjang