Menjelang Ramadan, DPRD Sumenep Desak Pasar Anom Diselesaikan

SUMENEP, BANGSAONLINE.com - Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari mendesak Pemkab Sumenep agar lebih serius memperhatikan nasib para pedagang Pasar Anom Baru yang jadi korban kebakaran pasar tahun 2007 silam.

Sampai saat ini pembangunan pasar tradisional terbesar di Kota Sumekar pasca kebakaran belum ada kejelasan, kapan akan selesai. "Jangan sampai mereka dibiarkan menunggu terlalu lama pembangunan pasar itu. Apalagi sudah mendekati bulan ramadhan," katanya.

Dia menilai, sejak beberapa tahun terakhir pemerintah daerah terkesan tidak peduli terhadap para pedagang pasar. Indikasinya, pembangunan fisik Pasar Anom Baru pasca kebakaran tak kunjung selesai.

"Sepertinya, pemerintah memang tidak serius memperhatikan nasib para pedagang. Mereka sepertinya sengaja dibiarkan oleh pemerintah. Masak untuk membangun pasar bagi para pedagang harus memakan waktu bertahun-tahun," sorotnya.

Dikatakan, jika musim kemarau nasib pedagang pasar mungkin tidak terlalu memperihatinkan. Namun keadaan akan berbalik ketika mulai masuk musim penghujan. Menurutnya bukan hanya pembeli yang akan merasa tak nyaman karena kondisi pasar yang becek, tapi pedagang juga akan merasakan hal yang sama.

Sumiatun, salah satu korban kebakaran tahun 2007 mengaku kecewa molornya proyek pembangunan pasar. Padahal rencana pembangunannya sudah berlangsung sejak tahun 2011 lalu. Sebab itu, ia berharap pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif, khususnya Komisi II DPRD Sumenep mendesak pihak investor agar segera menyelesaikan pembangunan pasar tersebut.

Apalagi, lanjutnya, sebentar lagi sudah memasuki bulan ramadan. "Intinya, semua pihak harus lebih memperhatikan nasib para pedagang pasar. Jangan dibiarkan terlalu lama," tandasnya.

Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Sumenep, Didik Untung Samsidi mengaku tidak mempunyai target terkait pembangunan pasar anum baru. Sebab, semua pembanguan itu dibiayai dari anggaran non APBD. ”Pembagunan itubukan tugas kami melainkan itu tugas pelaksana,” jelasnya.

Kendati demikian, kedepan pihaknya terus akan melakukan koordinasi dengan semua tim teknis, seperti Dinas Cikatarung, Bagian Hukum Setkab Sumenep, dan juga kosultan perencana. Agar pembanguan itu bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Dikatakan, akibat belum selesainya pembangunan pasar membuat sejumlah pedagang mebludak hingga ke jalan raya. Kondisi tersebut dinilai mengganggu keindahan kota.”Kasihan juga korban kebakaran sudah lama, kami terus mendorong supaya cepat selesai,” tegasnya.

Untuk diketahui, pasca peristiwa kebakaran tahun 2007 upaya pemerintah untuk membangun pasar anom baru tidak kunjung selesai. Pembangunan tahap I ditarget selesai akhit tahun 2014 lalu.

\Meskipun anggaran yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah sebesar Rp 40,7 miliar, dan sebagai pemenang tender PT Mage (Mitra Abadi Enginering) tidak mampu menyelesaikan. Itu disebabkan karena terindikasi terdapat permasalahan yang cukup urgen.

Kemudian pada tahun 2011 lalu, Pemkab Sumenep kembali mengucurkan dana sebesar Rp 8,1 milyar untuk pembangunan pondasi, dan juga pembangunan sebanyak untuk 800 tiang pancang.

Namun rencana tersebut gagal kembali. Demi kenyamanan para pedagang, pemerintah daerah tahun 2012 kembali menyiapkan anggaran sebesar Rp 17 miliar untuk melanjutkan pembangunan pasar Anom baru jilid II. Sayangnya upaya tersebtu tidak membuahkan hasil.

Tidak hanya sampai disitu, tahun 2015 pemerintah kembali berupaya untuk membangun Pasar Anom. Namun kali ini pembangunannya dipihak ketigakan. Sehingga pada tahun itu pemerintah melakukan MoU dengan investror.

Kali ini yang dianggap bisa menyelasikan persoalan itu adalah PT Mitra Abadi Jaya Engenering sebagai investor, dan PT Trisna Karya Surabaya sebagai kontraktor.

Bangunan yang dibangun diatas tanah seluas 80 meter persegi, itu memakai struktur pondasi rakit. Dimana pondasi pembangunan pasar yang ditargetkan selesai 100 persen diakhir tahun itu menyatu sat lantai dengan ketebalan 20 centimeter (Cm) dengan pembesiaannya sebanyak dua layer.

Sementara untuk kontruksi kolom, balok dan atapnya menggunakan kontruksi baja. Dari luas pasar 80 meter persegi, seluas 60 persen akan digunakan sebagai pembangunan komirsial, sedangkan 40 persen akan digunakan sebagai pembangunan fasilitas umum,

Saat ini pembangunan yang ditergetkan selesai akhir tahun 2015 lalu, baru selesai sekitar 80 persen. ”Sesuai kontrak pembengunan ini akan selesai bulan juli,” jelas Maryadi Site Manager (SM) PT Trisna Karya. (jiy/fay/dur)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Menjelang Ramadan, DPRD Sumenep Desak Pasar Anom Diselesaikan