Tiga Hari Demo di depan Istana, Guru Honorer Bertumbangan, Polisi Ikut Prihatin

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Aksi unjuk rasa ribuan guru honorer di depan Istana Negara di hari ketiga ini 10/2) membuat puluhan guru bertumbangan. Aksi mereka untuk menagih janji Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Yuddy Chrisnandi agar mereka dijadikan pegawai negeri sipil (PNS). Mereka berusaha mengadakan perbincangan dengan Presiden Joko Widodo terkait janji tersebut.

"Sampai saat ini informasinya kami masih belum bisa bertemu presiden," kata Koordinator DPD Lampung Forum Guru Honorer K2 Indonesia (FGHK2I), Setiawan, di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (12/2).

Pria asal Lampung ini mengaku kecewa dengan sulitnya berdialog dengan presiden. Dia mengatakan, presiden patut untuk tahu bahwa Yuddy telah melanggar janjinya untuk mengangkat guru honorer K2.

Salah satu koordinator aksi asal Lampung ini berharap setidaknya ada komentar dari presiden terkait nasib mereka sebelum aksi unjuk rasa ini berakhir. Meskipun, Setiawan mengaku, keputusan yang keluar dari istana mengecewakan mereka.

"Katakan bisa diangkat tapi tahun depan, itu lebih baik dari pada tidak ada keputusan sama sekali," kata guru olahraga yang sudah aktif sejak 2003 lalu.

Setiawan mengaku akan berjuang habis-habisan terkait nasibnya, beserta tenaga honorer K2 lainnya. Dia mengaku siap meskipun harus jungkir balik memperjuangkan pengangkatan honorer K2 menjadi PNS. "Sudah jauh-jauh datang, percuma kalau tidak ada hasil," tegasnya.

Seperti diketahui, ribuan guru honorer melakukan aksi massa besar-besaran di wilayah Jakarta. Aksi tersebut dilakukan Lebih dari 1000 orang massa dari Forum Honorer Katagori 2 Indonesia (FHK2I) dan puluhan ribu massa Forum Guru Honorer K2 Indonesia (FGHK2I).

Mereka menuntut payung hukum terkait pengangkatan guru honorer K2 sebagai PNS. Unjuk rasa di depan Istana Negara itu telah berlangsung tiga hari sejak, Rabu (10/2).

Pada aksi unjukrasa hari ketiga kemarin, banyak demonstran yang tergabung di dalam FGHK2I bertumbangan. Salah satu yang jatuh sakit adalah Tita, guru asal Bekasi dan Eli asal Bandung. Eli mengalami penyempitan jantung dan keduanya dirujuk ke RS Tarakan, Jakarta Barat.

Setiawan mengatakan melihat kondisi teman-temannya yang pingsan, seharusnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) terketuk hatinya. “Kalau bener dia Presiden rakyat, harusnya punya perasaan, lihat teman-teman kami banyak yang pingsan dari kamarin, ini malah kesannya tutup mata,” katanya.

Setiawan mengaku salut terhadap teman-teman yang memiliki tekad yang kuat untuk menuntut janji pemerintah yang akan mengangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS), meski para guru honorer itu harus ditempuh dengan penuh perjuangan.

“Saya salut dengan teman-teman, mereka bersedia mau tidur di halte-halte bis, di bawah pohon yang ada di kawasan Monas, demi menperjuangkan keinginan,” lanjutnya.

Namun, Setiawan menyayangkan sikap pemerintah karena hingga kini belum memberikan keterangan resmi yang menyangkut nasib para guru honorer. “Kami kecewa, hingga saat ini tidak ada satu pun perwakilan dari pemerintah untuk memberikan statement resmi,” tutupnya.

Sementara di tengah aksi unjuk rasa, beredar kabar ada guru perempuan dan sedang hamil meninggal. Namun, hal ini dibantah Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Hendro Pandowo. Menurutnya, itu berita bohong (hoax). “Itu Hoax, kalaupun ada, saya tentunya monitor dong,” kata Kombes Hendro Pandowo.

Meski menampik isu ibu meninggal, Kombes Hendro tidak menyangkal pengunjuk rasa ada yang pingsan. “Kalau ada yang berobat, terus ada yang pingsan itu benar ada, kami mencatat dari kemarin sampai sekarang ada 82 orang yang memerlukan penanganan medis,” ungkap Kombes Hendro.

Menurut dia, dari 82 orang pegawai honorer yang pingsan, hanya satu yang dilarikan ke rumah sakit, lantaran mengidap penyakit Vertigo. “Kemarin ada yang dibawa, ibu itu punya Vertigo, tapi sekarang sudah sembuh kembali,” beber Hendro.

Sebelumnya, beredar pernyataan seorang ibu yang tengah hamil meninggal saat mengikuti unjuk rasa oleh Anggota DPD RI asal DKI Jakarta, Fahira Idris.

“Betul (seorang ibu meninggal dunia), dia memang sudah hamil tua, terus kemudian pas mau melahirkan langsung dibawa pulang ke Magelang,” kata Fahira kepada wartawan, pukul 11 Kamis Malam.

Dalam aksi siang tadi, pemandangan cukup memrihatinkan terlihat saat para guru honorer tersebut berebut nasi bungkus di depan Istana Negara. Beberapa di antara pendemo terlihat cemberut karena tak kebagian nasi bungkus.

Menurut Yono, guru honorer asal Indramayu, nasi bungkus tersebut jumlahnya memang minim. “Nasi bungkus yang dipesan memang tidak banyak, karena anggaran dikit,” terang Yono.

Menurut Yono, nasi bungkus tersebut bukan dari pemerintah, melainkan dari hasil patungan honorer. “Hasil patungan semalam, pesan di rumah sakit,” katanya.

Di sisi lain, meski mengawal unjuk rasa yang dilakukan di depan Istana Negara, seorang polisi mengaku prihatin dengan nasib pegawai honorer. Dia adalah Ipda Fauzi Pratama selaku Shabara, mengaku kondisi para guru honorer turut menggores perasaannya. “Kasihan guru honorer, gaji mereka kecil,” kata Fauzi. Menurut Fauzi, jika berada di posisi mereka, ia pasti akan pusing.

“Kalau saya jadi mereka, pasti saya juga akan pusing,” tambah Fauzi saat sedang berjaga. (mer/tic/rol/lan)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: