15 TKA Cina di Nganjuk Tidak Bisa Tunjukan Paspor

NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Sebanyak 15 tenaga kerja asing (TKA) asal China, belum bisa menujukkan paspor mereka hingga Senin (1/2). Keberadaan TKA di penampungan ditinjau langsung Kapolsekta Kompol Edi Hariadi bersama Kasat intel Polres Nganjuk Slamet yang didampingi aparatur Kelurahan Payaman serta Babinsa dan Babinkamtipmas.

Mereka di Nganjuk sedianya akan bekerja sebagai tenaga teknisi di pembangunan jalan tol Trans Jawa. "Kami melakukan antisipasi awal," jelas kompol Edi Hariadi Kapolsekta Nganjuk kepada sejumlah awak media.

Ditambahkan oleh Edi, sementara pihaknya baru bisa mencatat nama 15 WNA asal Cina ini, karena saat ini ke 15 WNA ini belum bisa menunjukan paspor. "Katanya semua paspor masih dibawa ketua kelompoknya," tambah Edi.

Tetapi rencananya besok bukti kelengkapan identitasnya segera diserahkan ke Mapolsekta Nganjuk. Ke-15 tenaga teknisi tol Trans Jawa masing-masing atas nama:

  • 1.Lie yongkwan (56) project manager
  • 2.Zhang qi ngsan (30) chief engiener,
  • 3.Zao Jieanyong (31) site manager,
  • 4.Wang yaoping (27) engineer,
  • 5.Zhang liang (31) comersial manager
  • 6.Zho zhihua (37) SHE manager,
  • 7.Liu zhenghan (32) equipmen manager,
  • 8.Cheng gong (31) QC manager,
  • 9.Zhang king (31) material manager,
  • 10.liu qi li (28) financial manager,
  • 11.Siu ning (29) RB engineer,
  • 12.Liu qingrong (41) enterpriner asal Inggis,
  • 13.Cristina (38) enterprener asal Indonesia, juga
  • 14.Aisiyah (22) enterprener asal Indonesia.

Slamet Kasat Intel polres Nganjuk menegaskan, karena keberadaan tenaga kerja asal Cina ini untuk bekerja sebagai tenaga teknisi di pembangunan jalan Tol Tran Jawa, maka pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinas tenaga kerja. Karena apapun bentuknya semua tenaga kerja harus seijin Disnaker.

Suwito SP Carik kelurahan Payaman yang juga hadir dalam peninjauan itu saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya telah mendapatkan laporan dari ketua RW setempat. Dalam laporannya tambah Carik, rumah bekas kantor KSP yang ada di Jln Dermojoyo 9 ini ditempati sebagai kantor, sedangkan untuk tempat tinggalnya dia mengontrak lagi rumah yang ada di Jln Dermojoyo 6, serta di Jln A Yani.

Sementara Cristina warga asal Kalimantan yang juga sebagai penerjemah bahasa memohon maaf kepada aparatur pemerintahan dan keamanan, sebab karena kesibukannya dia belum bisa melaporkan keberadaan 15 rekannya.

Ditambahkan oleh Cristina, rencananya perusahaan asal Cina ini akan mengirim 30 tenaga teknisi untuk pekerjaan jalan tol ini, tetapi sementara perusahaan baru mengirim 15 orang, yang 15 orang lainnya akan segera disusulkan.

Ditanya sejumlah wartawan kapan 15 tenaga teknisi lainya akan dikirim, Cristina tidak mau menjelaskan secara rinci. "Ini kebijakan perusahaan, kami di sini hanya menjalankan tugas perusahaan," jelas dia.

Lebih detail Cristine memaparkan perusahaan mengkontrakan rumah sebagai kantor selama 2 tahu, sedangkan untuk mess sementara di kontrak masing-masing 1 tahun. (dit/ns)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: