JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Meski pemilihan presiden (pilpres) masih 4 tahun lagi, tapi survei tentang calon presiden (capres) mulai bergulir.Tak jelas, apakah ini manuver politik untuk mengukur kekuatan atau sekedar bargaining untuk calon wakil presiden (cawapres) pada pilpres mendatang.
Yang menarik, capres yang muncul dalam survei yang digelar Segitita Institute ini ternyata bukan Prabowo Subiyanto, rival Jokowi dalam pilpres 2014. Tapi justeru Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo."35,9 persen responden memilih Gatot, 22,6 persen responden memilih Moeldoko, 27,4 persen responden memilih Djoko Suyatno, sementara Agus Suhartono 14,1 persen," kata Direktur Eksekutif Segitiga Institute Muhammad Sukron dalam diskusi bertajuk 'Kerinduan Publik Pada Sosok Militer' di Jakarta, Sabtu (30/1).
Ini berarti Gatot menjadi pesaing kuat bagi elektabilitas Presiden Jokowi di Pilpres 2019 mendatang. Menurut Sukron, seperti dilansir merdeka.com, nama Gatot lebih kuat daripada mantan Panglima TNI Jenderal Moeldoko yang hanya mendapat 22,6 persen dukungan dari responden.
Kendati begitu, Sukron mengatakan saat nama Gatot disandingkan dengan Jokowi, persentase pemilih masih berpihak kepada mantan Gubernur DKI tersebut. Jokowi unggul dengan posisi 59,3 persen sedangkan Gatot berada di posisi 38,5 persen.
"Sedangkan responden yang tidak memilih hanya sebesar 2,2 persen," ujar dia.
Sukron memperkirakan elektabilitas Gatot akan terus meningkat, apalagi waktu pelaksanaan Pilpres 2019 masih lama. "Angka ini sangat mengancam Jokowi, dengan jangka waktu sekitar tiga tahun lagi menjelang Pilpres, Gatot menjadi ancaman nyata bagi Jokowi," kata dia.
Sukron mengatakan, pihaknya memberikan pertanyaan tertutup dengan menawarkan empat nama yang pernah menjadi panglima TNI.
Di bawah Gatot, menyusul nama Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto dengan elektabilitas 27,4 persen.
Kemudian, Jenderal (Purn) Moeldoko dengan elektabilitas 19,3 persen, dan disusul Laksamana TNI (Purn) Agus Suhartono dengan 2,2 persen.
Muncul pula nama mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Pramono Edhie Wibowo dalam survei tersebut meskipun Pramono Edhie tidak pernah menjabat panglima TNI.
Elektabilitas Pramono dalam survei ini mencapai 18,6 persen. Menurut Sukron, pihaknya sengaja memasukkan nama Edhie ke dalam pilihan responden tersebut dengan pertimbangan tertentu.
"Karena menurut kita, meski dari KSAD, dia memiliki kans yang cukup lumayan. Setelah kita survei, benar, masuk pada urutan keempat," kata Sukron seperti dikutip kompas.com.
Ia mengatakan, Gatot menempati peringkat teratas dalam survei ini karena masih menjabat sebagai Panglima TNI dan dianggap memiliki pengaruh yang kuat di kalangan militer.
Survei ini dilakukan pada di 34 propinsi pada 4 -15 Januari 2016 dengan responden sebanyak 1.225 orang.
Populasi survei ini adalah warga negara Indonesia seluruh Indonesia berusia di atas 17 tahun dan memiliki hak pilih pada Pemilu 2019 mendatang.Minimal usia responden berusia 17 tahun atau di bawah 17 tahun tapi sudah menikah.
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sebesar 2,8 persen.




