JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Hermanto meyakini anak kedua Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, tak terlibat dalam kasus korupsi yang menyeret bekas Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin.
"Kami yakini Mas Ibas 1.000 persen tidak terkait dan tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Tapi, kalau toh disebutkan, orang besar kan biasa kalau disebut namanya," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/1).
Saat menjadi saksi skandal suap dan pencucian uang yang menjerat Nazaruddin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Rabu, 6 Januari 2016, terpidana kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet Jakabaring, Palembang, Angelina Sondakh, mengatakan dua petinggi Partai Demokrat menyetujui Nazaruddin melakukan korupsi.
Menurut Angie—begitu ia disapa—petinggi Partai Demokrat yang dimaksudkan adalah Ketua Umum Partai Demokrat saat itu, Anas Urbaningrum, dan Ibas, yang menjabat Sekretaris Jenderal. Dalam persidangan, Angie menyebut Ibas dengan julukan "Pangeran".
Selain itu, Angie menyebutkan ada pembagian jatah untuk fraksinya, yaitu 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009-2014. Namun, kata Angie, jatah 20 persen itu tidak semuanya untuk partai. Menurut dia, partai hanya mendapat 5 persen.
Agus membantah soal pembagian jatah tersebut. "Itu kan bisa ditelusuri, bisa diselidiki, biar penegak hukum bekerja. Tapi kami yakin betul tidak ada bagi-bagi di Demokrat. Dari awal kan saya di Demokrat, kalau ada hal aneh, saya pasti tahu," tuturnya.
Agus Hermanto mengaku menyesalkan ulah Angie yang menyebut koleganya tersebut. Agus mengatakan saat ini citra partai yang dibesut Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu sedang bagus dan naik daun.
"Ya saya juga sangat menyesalkan, karena sekarang Partai Demokrat lagi adem-ademnya, lagi bagus, dan lagi betul-betul fokus. Kok ada berita seperti itu," ujar Agus.
Menurut dia, apa yang diungkapkan Angie adalah bohong. Sebab, sepengetahuannya Partai Demokrat tidak pernah mendapatkan jatah uang 20 persen tersebut.
Hal serupa dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan. Dia menyatakan pernyataan Angie itu sebatas omongan. “Yang ngomong orang lain (Angie). Segala sesuatu itu harus ada dua alat bukti. Kalau hanya berdasarkan pada perkataan bisa kacau,” ujar Ramadhan, Kamis (7/1).
Ramadhan mengatakan pernyataan Angie tersebut harus diuji terlebih dulu untuk membuktikan benar atau tidak. “Harus dites dulu, diuji, buktinya apa. Harus seperti itu supaya fair,” ucapnya.
Bekas anggota Komisi I DPR itu menegaskan perlunya dicek terlebih dulu. “Harus ada cek dan ricek,” kata Ramadhan. “Tidak bisa hanya berdasar pada perkataan saja. Tidak sejalan dengan penegakan hukum,” lanjut dia.
Ramadhan menambahkan hukum jangan diintervensi oleh kepentingan lainnya. “Biarkan hukum bekerja, artinya jangan ditekan-tekan, jangan ada motif politik,” tuturnya.
Saat ditanya apakah Ibas perlu memberi klarifikasi atau keterangan atas tudingan Angie itu, Ramadan tidak mengomentarinya. “Saya sekarang ini dalam perjalanan mau ke DPP dulu untuk membicarakan perkembangan-perkembangan politik terutama sidang MK hari ini soal sengketa pilkada,” tuturnya seperti dilansir CNN.
Sementara itu, Politisi Partai Demokrat, I Gede Pasek Suardika menilai Partai Demokrat salah alamat dengan menantang Angelina Sondakh (Angie) untuk membuktikan pengakuannya terkait keterlibatan penguasa di masa lalu dalam kasus Nazaruddin.
"Nantangnya kok Angie? Tantang KPK dong," katanya dalam twit yang disampaikan di Twitter, Kamis (7/1).
Gede Pasek Suardika menilai penegak hukum seharusnya sudah mengerti makna yang terungkap di dalam fakta persidangan.
Di samping itu, Pasek pun berharap kepada pimpinan KPK baru terus melanjutkan dan mengembangkan kasus tersebut. Menurutnya, KPK yang saat ini terlihat lebih baik dibanding sebelumnya karena pimpinan KPK yang lama banyak memiliki agenda tersembunyi.
"Semoga KPK jilid baru bisa menegakkan kasus ini. Jangan ikuti pola lama. Ini kan kasus Nazar baru masuk setelah dipegang Ruki. Tiga tahun hanya dibiarkan saja," ujar Gede Pasek.
"Janganlah memandang Ibas saja. Kalau bisa dibuka tabir lebih besar lagi. Siapapun dia," tandasnya. (cnn/mer/tic/rev)




