SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Sejak membuka kantor cabang di Surabaya pada awal April lalu, Gojek memberi warna baru dunia jasa transportasi. Pasalnya, belum lama di Surabaya, gojek sudah berhasil menjaring ribuan orang untuk menjadi drivernya. Otomatis, gojek sudah membuka lowongan kerja baru dan berperan dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia.
Namun, tidak semua ketiban berkah akan adanya gojek ini. Di antara mereka malah ketiban apes, seperti para tukang becak dan sopir angkot. Sebab, dengan adanya gojek, pelanggan mereka menjadi berkurang.
"Kalau akhir-akhir ini sepi gara-gara ada ojek yang pakai HP itu mas.Wwong pelanggan tinggal telpon tidak lama tukang ojeknya sudah ada di tempat. Coba gak ada ojek HP, pasti pelanggan akan naik becak atau naik angkot," cetus Musoyo (60), tukang becak warga Tulungagung.
Ia mengaku jika sebelum ada gojek penghasilannya bisa mencapai 50-100 ribu rupiah. Namun sejak adanya gojek, ia hanya meraup Rp 20-40ribu sehari. "Ini saja saya mbelani tidur di becak dan tidak ngekost. Karena kalau ngekost habis buat kost, belum lagi buat makan sehari-hari," keluhnya lagi.
Keluhan ini juga diamini oleh Wawan pengawas pangkalan Angkot Lyn H2P. Menurutnya, seharusnya gojek itu diatur jalurnya agar tidak bebas mengambil penumpang. Dishub harus mengambil kebijakan, karena jika gojek dibiarkan seperti ini sopir angkot penghasilannya akan menurun.
"Dulu sebelum ada gojek, Lyn H2P bisa narik 2-3 kali PP dengan penumpang penuh, sekarang cuman 1 1/2 PP dalam sehari narik. Itu pun penumpangnya gak penuh," jelas pengawas Lyn jurusan pasar Wonokromo dan terminal Menanggal ini saat ditemui di depan DTC.
Hal serupa dilontarkan Didik (54) sopir angkot H2P. Ia juga mengeluh tentang penghasilan sehari-harinya yang semakin merosot. Hal ini membuat dia semakin terhimpit karena tak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi.
"Kita sopir angkot wajib bayar pajak di dishub tiap 6 bulan itu Rp 260 ribu, jadi kalau setahun bisa Ro 600ribu sama pajak trayeknya. Kalau gojek kan enak gak pakai biaya pajak operasi," keluh Didik.
"Belum lagi untuk bensin, biaya perawatan angkot seperti beli oli dan lain-lain," tambahnya.
Ia juga berharap jalur gojek diatur agar tidak memakan trayek angkot. Ia juga meminta agar armada gojek dibatasi seperti angkot sehingga tidak merugikan moda trasportasi lainnya.
Bahkan, ia mengancam akan demo apabila pemerintah tidak segera memberikan solusi. "Jika penghasilan kami tetap menurun, kita dari sopir angkot akan mengadakan protes," pungkas Wawan. (sby4/rev)




