3 Kalah, Kemenangan Incumbent di Jatim tak Ada yang Luar Biasa

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kendati belum secara resmi ditetapkan sebagai pemenang Pilkada serentak 2015, namun pasangan incumbent mendominasi kemenangan pilkada serentak di Jatim berdasarkan hasil penghitungan cepat (Quick Count) maupun Real Count yang dilakukan oleh tim pemenangan masing-masing pasangan calon.

Sebagaimana diketahui bersama, dari 19 kabupaten/kota di Jatim yang menggelar Pilkada serentak, hanya Kabupaten Jember yang tidak memiliki pasangan calon petahana. Bahkan dari 18 pasangan calon incumbent yang maju, hanya 3 pasangan calon petahana yang kalah, yakni di Trenggalek (Kholiq-Priyo Handoko), Kota Pasuruan (Hasani-M. Yasin) dan Kabupaten Ponorogo (Amin-Agus Widodo).

Ironisnya lagi, hasil kemenangan 15 pasangan petahana juga tidak terlalu memuaskan kalau didasarkan pada persentase suara yang diraih. Padahal sebagian besar lawan petahana hanyalah pasangan calon dari jalur independent yang notabene hanya jadi boneka.

Pengamat ilmu komunikasi politik dari Unair Surabaya, Suko Widodo menilai, perolehan suara yang didapat pasangan incumbent dipengaruhi banyak faktor. Di antaranya, jumlah penduduk (pemilih), karakter masyarakat pemilih dan lawan yang dihadapi, sehingga tidak simetris dengan penilaian kinerja selama memimpin.

"Pasangan incumbent yang menangi Pilkada itu karena memiliki relationship bagus dengan publik. Kalau persentasenya di atas 75 persen itu artinya luar biasa atau excellent," terang Suko Widodo saat dikonfirmasi Jumat (11/12).

Pasangan incumbent yang dinilai excellent, kata Suko Widodo adalah Samanhudi Anwar-Santoso di Kota Blitar (92,27%), pasangan Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widiatmoko di Banyuwangi (88,78%), Budi Sulistiyono-Ony Anwar di Ngawi (88,3%), Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana di Kota Surabaya (86,2%), Riyanto-Marhaenis di Kab Blitar (78%), Indartarto-Yudi Sambogo di Pacitan (77,90%), dan Fadeli-Kartika Hidayati di Lamongan (75,66%).

Sedangkan petahana yang dinilai sedang-sedang saja, lanjut Sukowidodo yakni Sambari Halim Radianto-M Qosim di Gresik (70,08%), Mustofa Kamal Pasa-Pungkasiadi di Kab Mojokerto (70%), Hariyanti Sutrisno-Masykuri di Kab Kediri (66,66%), Fathul Huda-Noor Nahar Husain di Tuban (61%) dan Saiful Ilah-Nur Achmad Syaiffudin di Sidoarjo (60,57%).

"Kalau persentase kemenangan petahana dibawah 60 persen, itu tergolong jelek," beber Sukowidodo. Misalnya, pasangan Dadang Wigiarto-Yoyok Mulyadi di Situbondo (55,50%), Rendra Kresna-M. Sanusi di Kab Malang (52%), dan pasangan Busyro Karim-Achmad Fauzi di Sumenep (50,7%).

Menurut Sukowidodo, idealnya pasangan petahana jika hanya bertarung melawan pasangan independent atau lawan bumbung kosong, persentase suaranya harusnya di atas 80 persen. Kasus seperti ini terjadi di Pilkada Lamongan, Tuban, Kab Mojokerto, Ngawi, Kab Blitar, dan Kota Blitar.

"Pasangan perseorangan itu bermodal paling banyak 5 persen dari total penduduk, kalau mereka bisa dapat diatas 20 persen suara, itu warning bagi incumbent supaya kinerjanya diperbaiki," tegas dia.

Pelaksanaan Pilkada serentak di Jatim juga mendapat catatan khusus dari Suko Widodo. Di antaranya, masih ada pemanfaatan birokrasi oleh pasangan petahana. Kemudian dalam proses kampanye masih bersifat layaknya audisi sehingga belum memberikan peran sesungguhnya pada masyarakat, serta semakin maraknya money politics.

"KPU dan Bawaslu bisa kehilangan legitimasi sebagai penyelenggara pemilu jika menutup mata terhadap berbagai jenis pelanggaran. Pilkada hanya bersifat prosedural belaka belum sampai pada subtansial. Karena itu mereka yang terbukti melanggar baik penyelenggara maupun masyarakat harus dihukum supaya bisa menjadi shock therapy," pungkas Suko Widodo.

DATA PASANGAN PETAHANA MENANG DI JATIM.

Excellent

1. Kota Blitar : Samanhudi Anwar-Santoso (92,27%).

2. Banyuwangi : Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widiatmoko (88,78%)

3. Ngawi : Budi Sulistiyono-Ony Anwar (88,3%).

4. Kota Surabaya : Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana (86,2%).

5. Kota Blitar : Riyanto-Marhaenis (78%).

6. Pacitan : Indartarto-Yudi Sambogo (77,90%).

7. Lamongan : Fadeli-Kartika Hidayati (75,66%).

Sedang

8. Gresik : Sambari Halim Radianto-M Qosim (70,08%),

9. Kab Mojokero : Mustofa Kamal Pasa-Pungkasiadi (70%),

10. Kab Kediri : Hariyanti Sutrisno-Masykuri (66,66%),

11. Tuban : Fathul Huda-Noor Nahar Husain (61%)

12. Sidoarjo : Saiful Ilah-Nur Achmad Syaiffudin (60,57%).

Jelek

13. Situbondo : Dadang Wigiarto-Yoyok Mulyadi (55,50%),

14. Kab Malang : Rendra Kresna-M. Sanusi (52%),

15. Sumenep : Busyro Karim-Achmad Fauzi (50,7%).

Kalah

16. Kota Pasuruan : Hasani-M. Yasin (43,31%)

17. Trenggalek : Kholiq-Priyo Handoko (24%)

18. Ponorogo : Amin-Agus Widodo (23,35%)

Kosong

19. Jember : Tidak ada incumbent. (mdr/ns)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: