Warga Bojonegoro Enggan Jadi Petani

BOJONEGORO (bangsaonline) - Warga sekitar ladang minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro mulai enggan menjadi buruh tani. Buktinya, saat mulai tanam padi ini, petani yang masih mempunyai lahan di sekitar migas Blok Cepu kesulitan mencari seorang buruh tani.

Wakijan (52), petani Dukuh Sogo, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam mengatakan, saat ia akan mulai menanam padi ia harus mencari tenaga buruh tani dari luar Kecamatan yang tidak proyek migasnya."Mencari buruh tani di sekitar wilayah sini (Kecamatan Gayam, red) sangat sulit. Padahal, saat ini masa tanam padi sudah mulai,” ujar Wakijan, Sabtu (19/4/2014).

Memang, bekerja sebagai buruh tani atau petani saat ini kurang dilirik oleh warga sekitar proyek Migas di Desa Mojodelik. Maklum, desa itu merupakan desa penghasil minyak dan gas bumi Banyu Urip, Blok Cepu. Sekitar 85% pemuda di Desa Mojodelik memilih bekerja sebagai pekerja proyek minyak ketimbang menjadi buruh tani.

Akibatnya, ia terpaksa mencari buruh tani dari luar kecamatan, bahkan luar kota Bojonegoro. Buruh tani dari luar Bojonegoro ini upahnya lebih mahal yakni Rp 60.000 per hari. Itu belum termasuk biaya makan, minum, dan rokok.

"Kalau dihitung keseluruhan upah buruh tani bisa mencapai Rp 80.000 per hari, tetapi kalau buruhnya warga sini saja lebih murah, biasanya Rp 40-50.000 saja,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Desa Mojodelik Sandoyo mengatakan, pemuda di desanya kini memang lebih tertarik bekerja di sektor minyak dan gas bumi ketimbang menjadi petani atau buruh tani. Meski, kata dia, kebanyakan mereka menjadi tenaga kasar seperti pekerja proyek, tenaga satpam, tenaga kebersihan, sopir, hingga tenaga pengatur lalu lalang kendaraan proyek. "Warga yang tetap bertahan sebagai petani kebanyakan orang tua, tetapi ya sudah semakin berkurang,” ujar Sandoyo.


Warga Bojonegoro Enggan Jadi Petani