Berusia 108 Tahun, Pembunuh Pejabat Kompeni Belanda itu Naik Haji

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Sanusi bin H Muhammad Tahir, calhaj asal Bali, saat ini berusia 108 tahun. Dia berangkat ke tanah suci bersama cucunya, Zahruddin (48), dan masuk kloter 57 embarkasi Surabaya.

Pria yang lahir tahun 1907 ini, berasal dari Desa Patas, Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng. Sebenarnya dia berencana berangkat tahun kemarin. Sayangnya, sebulan menjelang keberangkatan, Sanusi sakit dan dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Saat itu Kanwil Kemenag Bali sempat menengok. Dan diambil keputusan, keberangkatan Sanusi ditunda setahun kemudian.

Sanusi adalah veteran perang melawan Belanda. Di sela-sela proses pendataan calhaj di Asrama Haji Sukolilo (AHS) kemarin, dia menyeritakan kisah heroik selama perang. Sanusi pernah menembak mati gubernur Kompeni Belanda yang ada di Bali. Dia menerima pengakuan langsung dari pemerintah, hingga ada SK veterannya itu.

Sampai sekarang Sanusi masih menerima pensiun sebagai veteran. Dia sudah berjuang melawan Jepang, dan Belanda di Bali. Bahkan di Babat Bali, Sanusi tertulis sebagai pejuang yang menembak mati gubernur Kompeni Belanda.

Di usianya yang satu abad ini, Sanusi masih 'segar'. Dia bisa berbicara dengan jelas, tak pikun, pendengaran masih bisa tapi agak terganggu, kondisi tubuh bisa dikatakan masih fit. Kepada wartawan, dia menyampaikan resepnya, yaitu, banyak-banyak meminum air putih dari sumber.

Pasutri Jual Bakso dan Jual Jamu Naik Haji

Di kloter yang sama pula, terdapat pasutri penjual bakso dan penjual jamu. "Tetangga banyak yang tidak percaya, tapi ya gimana lagi, wong saya jualan bakso di SD yang beli juga anak-anak," kata Sumarno, didampingi Wiji (53) yang penjual jamu keliling sejak tahun 1981. Mereka telah menabung mulai 2006, dan akhirnya bisa berangkat tahun ini.

Orang gigih lain adalah Jumadi (59) warga Tanjung Anom Kabupaten Nganjuk. Dengan profesi sebagai pemijat, dia menabung sejak 2005, dan sekarang bisa berangkat haji bersama istrinya Paisri (55). Jumadi mendaftar haji di tahun 2009.

Jumadi menjalani profesi sebagai pemijat sejak 1995. "Saya tak pasang tarif, bayarnya seiklasnya saja," imbuh Jumadi. "Ada yang bayar Rp 50, ada yang Rp 100 ribu," tambah dia. (sby2/ros) 


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Berusia 108 Tahun, Pembunuh Pejabat Kompeni Belanda itu Naik Haji