Pengemis asal Pasuruan ini Naik Haji, Bertekad tak Mengemis Lagi usai Naik Haji

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Tak disangka, Ansori (78), warga Dusun Lojok RT02 RW05, Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugul Kidul, Pasuruan, ini mampu naik haji dan masuk dalam kloter 44. Padahal, Ansori sehari-harinya hanyalah pengemis.

Memang Ansori bukan sosok orang yang mampu, tetapi panggilan rukun Islam ke lima, sangat diperhatikannya. Untuk rumah tinggal saja, dia tak punya, dan hanya sewa.

Ukuran rumahnya hanya 2x4 m2, dan hanya ditinggali sendiri. Dia sewa sebesar Rp 700 ribu per tahun. Kondisi rumah sewa Ansori pun berdinding gedhek (anyaman bambu, red), dan lantainya masih tanah.

Sedangkan Zulaiha, calhaj yang juga tetangga Ansori sedusun, menyeritakan kondisi rumah Ansori sangat sempit. "Untuk acara tasyakuran haji 15 orang saja tak cukup," kata Zulaiha.

Ada acara tasyakuran haji? Ansori dengan wajah lugu, mengatakan bahwa uang untuk tasyakuran haji itu, atas pemberian Wali Kota Pasuruan H Hasani SH.

"Tak mungkin saya bisa mengadakan tasyakuran haji, lha wong untuk sewa Rp 700 ribu saja, saya tak mampu kontan. Saya cicil semampunya. Kalau ada Rp 10 ribu ya saya kasihkan. Terkadang kalau punya uang RP 50 ribu, itu aja gak pok (gak lunas,red)," kata Ansori, dengan bahasa Jawa.

Sebelum jadi pengemis, sebenarnya pekerjaan Ansori adalah serabutan, pemulung dan buruh tani. Ansori pernah mencoba berdagang, berternak. Namun, karena tak punya bakat, usahanya amburadul dan bangkrut. Sejak istrinya meninggal dua tahun lalu, dan tak ada modal apapun, dia akhirnya menjadi pengemis.

Padahal, dia sudah daftar haji di tahun 2009 lalu. Mau tak mau, dia berupaya keras untuk menyiapkan uang pelunasan. Karenanya, dia mengemis di daerah Ginongan, Landusari, Mbugir, Kraton, Njagalan, Marung Dowo, Pleret, dan berbagai tempat lainnya.

Setidaknya, dia berjalan kaki sejauh lebih 10 km per hari, dengan berangkat dari rumah sejak pagi dan pulang malam. Namun, dia merasakan 'panen' ketika Hari Raya. Ansori bisa mendapatkan Rp 50 ribu.

Separuh ditabung, separuhnya untuk makan. "Kalau dapat Rp 30 ribu. Buat makan Rp 10 ribu, buat banyar sewa Rp 10 ribu, buat nabung Rp 10 ribu, pas wes," papar Ansori.

Ansori menargetkan, setiap tiga Jumat, harus punya uang Rp 50 ribu untuk pergi haji. Akhirnya terkumpul RP 42 juta dipakai untuk pergi haji sekarang. "Nanti setelah pulang haji, saya bertekad tak mengemis lagi, saya akan kerja seadanya untuk makan. Saya tak ngoyo lagi, karena cita-cita saya sudah tercapai," kata dia.

Uniknya, meski sudah memakai seragam haji, Ansori tetap banyak dikasih uang oleh orang-orang. "Saya ndak minta-minta, tapi tetap saja saya dikasih. Ada wartawan ngasih Rp 200 ribu. Di Asrama haji ini, tiba-tiba saja ada orang yang nyalami uang kepada saya," pungkas Ansori sambil menunjukkan uang pemberian calhaj lain. (sby2/rvl)


Pengemis asal Pasuruan ini Naik Haji, Bertekad tak Mengemis Lagi usai Naik Haji