Tunjukkan Nasionalisme, Penyandang Disabilitas di Situbondo Gelar Aksi Damai dan Teatrikal

SITUBONDO, BANGSAONLINE.com - Tidak ingin melewatkan momentum peringatan HUT RI ke 70, puluhan penyandang disabilitas di Situbondo menggelar aksi damai, sore tadi (19/8). Dalam aksinya, dengan segala keterbatasannya, mereka menampilkan teatrikal layaknya para pejuang dahulu yang berjuang merebut kemerdekaan.

Luluk Ariyantini, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Cabang Situbondo mengatakan, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk dan rasa nasionalisme para penyandang disabilitas. Namun sayangnya, kata Luluk, Kemerdekaan Indonesia yang sudah 70 tahun belum darasakan sepenuhnya oleh para difabel.

“Kemerdekaan yang sudah 70 tahun itu, kenapa sih masih belum kita rasakan sepenuhnya, seperti itu,” kata luluk kepada sejumlah wartawan di sela-sela aksi damainya.

Luluk menambahkan, hingga saat ini, para penyandang disabilitas faktanya masih terjajah dengan keadaannya. Tidak hanya karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan Negara, namun sebagian keluarga dan lingkungan juga belum memperhatikan kondisi para penyandang disabilitas.

“Mau di sadari atau tidak, kita kita memang belum pernah merasakan kemerdekaan seutuhnya kan, masih banyak teman taman kita yang masih tersembunyi di rumah tidak bisa keluar gara-gara gak punya kursi roda, gak bisa apa-apa, mereka belum bisa mengakses semuanya, berarti mereka kan masih terjajah dengan keadaannya, baik oleh keluarganya dan lingkungannya. Bukan hanya Negara tapi keluarga sendiri masih belum memperhatikan anak-anak mereka,” tambahnya.

Pantauan di lapangan menyebutkan, aksi damai para penyandang disabilitas ini diikuti puluhan penyandang tuna rungu, tuna daksa dan tuna netra dengan pengawalan pengawalan dari aparat kepolisian. Mereka melakukan long march mulai depan kantor DPC PPDI Situbondo di jalan jaksa Agung Suprapto menuju kantor Pemkab.

Setibanya di depan Kodim 0833 Situbondo, puluhan penyandang disabilitas ini menggelar teatrikal tentang perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dengan segala keterbatasannya. Namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan rasa nasionalisme mereka.

“Maunya kita jalan saja, tapi mereka maunya kita ingin seperti pahlawan. Kita ingin seperti pahlawan, kita ingin seperti pahlawan, katanya,” kisah Luluk. (had/rvl)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: