Pakde Karwo Beri Bantuan, Nurul Faridatul Hasanah Urung Jual Ginjalnya

SURABAYA (bangsaonline) - Kasus Nurul Faridatul Hasanah, siswi yang berencana menjual satu ginjalnya demi mengobati orang tuanya selesai sudah. Gubernur Jawa Timur memastikan walikota Surabaya akan mengurus pengobatan mereka.

Kepastian itu diperolah setelah Gubernur Jawa Timur Soekarwo (Pakde Karwo) bertindak cepat ketika mendengar kabar adanya sisiwi SMA di Surabaya yang berniat menjual salah satu ginjalnya akibat terhimpit beban ekonomi.Pakde Karwo, Sabtu (5/4/2014) mendatangi langsung keluarga Nurul Faridatul Hasanah, siswi kelas 12 SMAN 3 Surabaya tersebut di RT 1 RW 03 Kelurahan Bulak Banteng Kecamatan Kenjeran Surabaya.

Didampingi Kepala Dinas Pendidikan Jatim Harun, Pakde Karwo yang datang secara tiba-tiba itu langsung masuk untuk melihat kondisi Nurul dan keluarganya di rumah kontrakan kecil. Pakde Karwo tak mendapati Nurul. Ia hanya melihat ayah Nurul, Didik Susanto yang sedang tergolek lemas di atas tempat tidur akibat penyakit stroke yang dideritanya.

Melihat kondisi itu, Pakde Karwomencoba menguatkan hati Didik untuk terus berjuang melawan penyakit yang ia derita. “Sabar ya pak, pemerintah pasti mencarikan solusinya,” kata Pakde Karwo.

Sambil duduk di atas tempat tidur, orang nomor satu di Jawa Timur itu mencoba mengorek lebih dalam kondisi sebenarnya yang dialami keluarga Didik Susanto hingga anaknya, Nurul Faridatul Hasanah berencana menjual salah satu ginjalnya. Dengan sabar, Pakde Karwo mendengarkan keluh kesah Didik yang didampingi istrinya, Nurhayati. “Semua itu harus dijalani dan kita harus tabah,” kata Pakde Karwo.

Tak selang beberapa saat kemudian, Nurul Faridatul Hasanah, sang siswa yang berencana menjual ginjalnya demi keluarganya itu masuk rumah yang sudah penuh dengan banyak orang. Mendengar kehadiran Gubernur Soekarwo ke rumahnya, siswa yang juga bekerja sebagai pelayan kafe sepulang sekolah itu langsung berjabat tangan Pakde Karwo.

Sambil duduk bersebelahan, kepada Nurul, Pakde Karwo menyampaikan rasa salut dengan apa yang dilakukannya. Namun, rencana untuk menjual salah satu ginjalnya itu bukan sebuah solusi utama. “Semua itu pasti ada jalan keluarnya. Dan pemerintah harus turun tangan mengatasinya,” kata Pakde Karwo.

Setelah mendengar seluruh kondisi yang dihadapi, Pakde Karwo langsung memberikan santunan kepada keluarga Didik Susanto. Isak tangis Didik dan keluarganya pun pecah. “Maturnuwun Pakde, maturnuwun sanget (terima kasih pakde, terima kasih, red),” kata Didik, guru SMPN 4 Surabaya itu.

Sementara untuk mengobati penyakit yang diderita Didik Susanto, istri dan anaknya, Pakde Karwo menyampaikan kalau pemerintah akan turun tangan mengobati hingga sembuh. “Kita tanggung. Ini akan kita bicarakan dengan Bu Wali (Walikota Surabaya). Prinsipnya pemerintah itu kan pemerintah daerah, provinsi dan pusat. Dan agar tidak terjadi tumpang tindih ya kita koordinasikan,” kata Pakde Karwo.

Menyoal kondisi kesehatan Didik Susanto hingga memunculkan rencana anaknya Nurul Faridatul Hasanah menjual salah satu ginjal, Pakde Karwo menyampaikan kalau peristiwa tersebut biar menjadi bahan koreksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. “Ini kan menjadi anomali BPJS. Dan saya sangat respek dengan media, agar BPJS terkoreksi dan dibenahi,” katanya.

Namun, sebut Pakde Karwo, persoalan tersebut tidak harus membuat pemerintah berpangku tangan. “Ini yang akan kita isi untuk mengisi kekosongan BPJS. Dan pemerintah harus turun tangan. Tetapi sekali lagi, pemerintah tidak boleh kemudian tidak memberikan solusi langsung terhadap persoalan seperti ini. Pemerintah harus menyelesaikan dan harus hadir,” tegasnya.

Sementara menanggapi rencana Nurul yang ingin menjual salah satu ginjalnya, Pakde Karwo menegaskan kalau rencana itu diurungkan. Sakit yang diderita ayah, ibu dan adiknya akan segera diurusi pemerintah.

Selanjutnya, pihaknya akan mendirikan lembaga keuangan desa berupa Koperasi dengan modal awal sebesar Rp 50 juta. Upaya itu dilakukan agar bank titil (rentenir) yang membuat ruwet perekonomian masyarakat tidak muncul lagi. “Sebab, penyebab utama Nurul (rencana menjual salah satu ginjalnya) adalah soal utang yang membelit keluarganya. Rentenir yang masuk di keluarganya. Sehingga bapaknya stroke itu karena tagihan rentenir,” jelas Pakde Karwo.

Untuk diketahui, keluarga Nurul berhutang kepada rentenir Rp 12juta namun akhirnya membangkak Rp 21 juta, yang harus dilunas pada April ini.

Menanggapi santunan yang diberikan, Pakde Karwo menyampaikan karena rasa iba atas kondisi yang dialami keluarga Didik Susanto. "Ini murni membantu karena kita semua terenyuh dengan niat Nurul yang mau menjual ginjal demi keluarganya," ujar Pakde Karwo.

Seperti diberitakan, Nurul adalah putri sulung dari Didik Sutanto yang kini sedang menderita stroke beserta Nur Hayati, istrinya, yang menderita kanker rahim. Adiknya, Ayu, juga masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kini terserang kanker getah bening dan tumbuh benjolan di sekitar lehernya. Adik bungsunya juga sampai saat ini belum sekolah karena menderita authis.

Penderitaan keluarganya tidak cukup sampai disitu. Keluarganya juga dikejar-kejar rentenir karena sudah menunggak hutang hingga puluhan juta rupiah.

Nurul pun menyerah dan tak ada pilihan lain kecuali berencana menjual ginjalnya seharga Rp 70 juta untuk menanggung hutang sekaligus membiayai pengobatan keluarganya. Keinginannya sempat disampaikan kepada teman-teman sebayanya di sekolah. Meski disarankan agar tidak menjual ginjal, perempuan berambut panjang itu tetap ngotot.

"Saya sudah tak tega melihat penderitaan kedua orang tua. Apalagi jika melihat adik saya yang setiap hari mengeluh kesakitan," kata Nurul.

Sebenarnya, kata dia, sepekan lalu sudah ada pihak yang tertarik dan menemuinya membeli ginjalnya. Hanya saja, karena ditawar terlalu murah, akhirnya tidak jadi. "Semula orang tua tidak tahu, tapi akhirnya tahu dan melarang keras. Tapi saya tidak ada pilihan lain. Ayah juga tidak bisa mengajar lagi sebagai guru karena stroke," katanya.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Pakde Karwo Beri Bantuan, Nurul Faridatul Hasanah Urung Jual Ginjalnya