
MOJOKERTO (BANGSAONLINE.com) - Tingginya intensitas hujan tahun ini dikhawatirkan membuat pengadaan puluhan ribu ton gabah kering Bulog Sub Drive Surabaya Selatan, di Mojokerto tersendat. Hingga memasuki bulan ke empat, pihak Bulog setempat baru berhasil mengakusisi 15 ribu ton dari target 70 ribu ton kebutuhan gabah untuk stabilitas pangan nasional.
Ini terjadi karena curah hujan yang terus tinggi meski sudah memasuki bulan April. "Sejak awal pengadaan Maret bulan lalu, kita baru penuhi 15 ribu ton. Sisa waktu yang ada kita optimalkan untuk kejar target 70 ribu ton untuk stabilitas kebutuhan pangan nasional," terang Kasub Bulog Drive Surabaya Selatan, Budi Ganefiantara, Senin (13/5).
Untuk mendorong proyek ini, pihak Sub Bulog menerjunkan puluhan Satgas pengadaan untuk menawarkan pembelian lewat para mitra kerja seperti penggilingan padi dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Para satgas itu diterjunkan ke kantong-kantongi produksi beras di wilayah Kecamatan Ngoro, Dlanggu, Mojosari, dan Kecamatan Puri. Sedangkan di Jombang fokus pengadaan berada disentra beras di wilayah Kecamatan Kesamben.
"Kita buka kran-kran pembelian di daerah kantong beras dengan harga kering giling Rp 4.650," tambah Budi.
Soal anomali cuaca, Budi optimis pihaknya bisa mengejar target pengadaan dengan sisa waktu yang ada. "Mumpung masih lama kita akan datangi mitra kerja kita. Sebab, kita hanya bisa pengadaan pas musim panen seperti ini saja," tambahnya.
Persoalan cuaca ini, kata ia, berpengaruh terhadap jumlah pengadaan. Sebab, pihak Bulog hanya membeli gabah kering petani dengan kadar kekeringan 30. Dan untuk itu butuh proses pengeringan yang panjang dan didukung panas yang memadai. Padahal, saat ini cuaca kerap kali mendung dan hujan.
Disinggung soal kebutuhan beras di Mojokerto dan Jombang, Budi mengatakan relatif kecil. Menurut ia, kebutuhan beras di kedua daerah itu berkisar 24 ribu ton per tahun. Dari pengadaan ini, nantinya akan disimpan di dua gudang Bulog di Mojokerto selebihnya di lima gudang di Jombang.



