Komisi II DPRD Bondowoso Soroti Rendahnya Produksi Kopi Eksport

BONDOWOSO (BANGSAONLINE.com) - Kluster kopi yg ada di Bondowoso mendapatkan sorotan Komisi II DPRD Bondowoso. Hal inj terungkap saat Komisi II melakukan kunjungan lapangan pada Kelompok Tani Kopi Talang Rejo Sumber Wringin. Dari hasil kunjungan lapangan, Komisi II menemukan persoalan yg selama ini menjadi penyebab rendahnya produksi eksport kopi Bondowoso.

Ketua Komisi II DPRD Bondoeoso Ady Kriesna, mengatakan bahwa kluster kopi eksport saat inj dari 7300 ha lahan tanaman kopi, hanya 2000 ha kopi eksport yang jenis arabica, sisanya kopi jenis robusta.

"Pemerintah dan Perhutani harus melakukan rejuvenisasi tanaman kopi secara bertahap agar mampu memenuhi kebutuhan pasar international," ujar politisi muda asal Golkar inj saat ditemui BANGSAONLINE.com Jum'at 10/04.

"Walaupun luas lahan kopi robusta lebih besar dibandingkan arabica, tetapi mutu kopi robusta yg sesuai dengan keinginan pasar masih rendah," ulasnya.

Menurutnya, meski kluster kopi yang ada di Bondowoso mampu menghasilka 500 ton arabica, ternyata hanya 29 ton kopi robusta yg dieksport.

"Rejuvenisasi ataupun konversi dari kopi arabica ke kopi robusta menjadi sebuah keniscayaan. Pemkab dan Perhutani sebagai mitra harus mengikhlaskan dengan menurunnya produksi kopi selama sekali panen jika memang dilakukan rejuvenisasi. Tetapi hanya dengan cara itulah produksi dan mutu kopi Bondowoso akan meningkat untuk tahun-tahun berikutnya. Ini mengingat pohon kopi yang ada sekarang sudah terlalu tua, produktifitasnya menurun serta mutunya rendah," tambahnya

Untuk itulah, geliat kluster kopi Bondowoso memang sudah dirasakan oleh masyarakat. Selain sudah mampu memenuhi standart pasar internasional, gairah petani kopi juga sangat tinggi.

"Tinggal bagaimana pemerintah mengelola potensi dan peluang yang ada. Sebab jika kluster kopi mulai hulu, yakni petani dan hilir yaitu pasar sudah ada, tinggal bagaimana pemerintah menjaga mutu, memberikan pembekalan kepada petani seperti Sekolah Lapang maupun memberikan bantuan permodalan", harapnya

Oleh karena itu, menurut mantan Presiden BEM Unmuh ini, tidak sedikit petani kopi yang dimanfaatkan oleh cukong atau tengkulak dengan cara meminjami mereka uang agar kopinya nanti dijual kepada mereka, tentu dengan harga yg murah.

"Jadi sendi-sendi perekonomian rakyat akan rusak jika economic captured seperti cukong-cukong ini memanfaatkan kelemahan permodalan yang dimiliki petani. Oleh karena itu, diharapkan persoalan permodalan, kendali mutu dan ketersediaan pasar nasional maupun international menjadi tanggungjawab pemerintah," pungkasnya


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: